SUKA DUKA OJOL (OJEK ONLINE)


SEDEKAH BINTANG 5


"Ah motornya butut, ga sesuai aplikasi."

"Sial gua basah kuyup karena jas hujan yang dikasih bolong di bawah lengen."

"Anjir mau muntah gua jaket driver-nya bau apak."

Kawan, mungkin kita pernah menggerutu seperti itu setelah menggunakan jasa ojek on line, yang akhirnya membuat kita memberikan bintang 2, 3 atau bahkan 1 bintang sebagai tanda kepuasan kepada sang driver. Tapi pernahkah kawan-kawan mengesampingkan ego dan mengajak driver buat ngobrol ringan dalam perjalanan menuju lokasi yang dituju? Mungkin kita akan tahu driver pakai motor butut karena motor bagusnya sedang turun mesin terkena banjir dan si driver belum ada biaya untuk memperbaikinya karena harus membayar pengobatan salah satu keluarganya. Mungkin kita akan tahu jas hujan yang dia miliki berlubang karena dia baru saja membayar SPP anaknya sehingga belum mampu membeli jas hujan baru. Mungkin kita akan tahu kalau driver ini bekerja dari pagi sampai menjelang pagi demi bayar rumah kontrakan dan bayar UKT anaknya yang semakin mahal sampai sampai dia belum ada waktu untuk beristirahat lebih banyak dan mencuci jaketnya. Kawan-kawan percaya, kan, bahwa kebanyakan dari para driver ini ga akan secara sengaja membuat pelanggannya kecewa karena pelayanan yang tidak memuaskan? Upah mereka taruhannya.

Minggu lalu, saya hendak pulang ke Solo setelah seharian berjuang menemui dosen pembimbing di kampus tercinta, di Jogja. Sekitar jam 10 malam saya memesan ojek via aplikasi. Ga lama kemudian saya mendapatkan driver yang di fotonya terlihat masih muda, serta motor Vx*on sebagai kendaraannya. Saya kemudian menerima telephone dari driver bersangkutan dan sekitar 5 menit kemudian dia sampai di depan kos saya. Saya cukup kaget karena driver dan motor yang dipakai berbeda dengan yang tercantum di aplikasi.

"Kita lewat jalur mana, Pak, supaya bisa cepat sampai?" tanya Saya hanya untuk meyakinkan bahwa saya ga salah driver. Driver saya pasti tahu tujuan saya, kan?

"Lewat lempuyangan aja ya, Mas, nanti lewat Kali Mambu, langsung sampai Giwangan," jawab bapak-bapak dengan motor S*pra agak butut di depan saya ini.

Ok Bapak ini tahu tujuan saya jadi saya yakin dia memang driver saya. Saya kemudian segera memakai helm dan naik ke atas jok motor, dan motor pun langsng melaju dari jalan daerah Pogung menuju Terminal Giwangan. Di jalan, saya berbincang dengan Bapak ini.

"Maaf Pak, motornya kok beda sama yang di aplikasi nggih?"

"Oh iya maaf mas. Sebenarnya bukan saya yang ngojek mas, tapi anak saya. Masalahnya, siang tadi Istri saya masuk Rumah Sakit, mas. Ngga tau kenapa dari kemarin meriang, menggigil, pusing, muntah terus. Anak saya yang ngojek ini anak nomor 2, Mas. Yang pertama merantau di Jakarta, yang ketiga masih SMP. Saya orang bodo, Mas. Cuma lulusan SD. Cuma kerja di pabrik bakmi. Nggak mudeng kalau harus ngurus urusan RS. Jadi anak saya yang wira wiri ngurus Mas. Tapi kalau anak saya nggak kerja, nanti uang buat tambah-tambah bayar RS dari mana, Mas? Makanya ini saya gantikan ngojek aja. Tapi saya nggak bisa pakai motor kopling mas, jadi mau ga mau saya pakai motor saya ini," jelas Bapak ini ke saya.

"Nggak ada yang complain, Pak?" tanya saya

"Tadi sudah ada 1 yang batal, Mas. Terus 3 orang kasih saya bintang 3 sama berapa tadi lupa. Gak ada yang kasih bintang 5, Mas."

Karena saya sungkan untuk bertanya atau menjelaskan terlalu banyak ke Bapak ini, akhirnya saya hanya diam dan berpikir: "Kalau service rate anaknya ga sesuai batas minimal, bonusnya ga bisa diambil dong? Atau mungkin dia bisa kena suspend dong?"

foto special

Kawan, yang ingin saya sampaikan disini sederhana. Kita tidak selalu mengerti keadaan orang lain. EVERYONE WE MEET IS FIGHTING THEIR OWN BATTLE. Kita tidak pernah tahu seorang driver ojol akan merawat istrinya yang sakit setelah dia pulang ke rumah. Kita mungkin tidak tahu bahwa seorang driver ojol akan kembali bekerja sebagai kasir mini market dan harus begadang semalaman. Kita mungkin tidak peduli bahwa seorang driver ojol mungkin sedang membangun mimpi mimpinya dengan mengumpulkan uang hasil kerjanya sedikit demi sedikit sekaligus menjadi tulang punggung keluarganya. Jadi, sekedar mengajak mereka berbincang dalam perjalanan dan menyampaikan kritik dan saran secara langsung, itu lebih bermanfaat dari pada mengeluh dan menggunjing, kan? Hingga akhirnya, BINTANG 5 bisa kita hadiahkan untuk si driver, sebagai hadiah atas kegigihan dan kerja kerasnya serta sebagai penyemangatnya dalam bekerja. Bintang 5 sebagai sedekah yang akan sangat bermanfaat untuk kita dan untuk seorang driver ojek online.

Kawan, jadikan bintang 5-mu sebagai salah satu sedekahmu hari ini :)

NB: Mungkin treatment-nya berbeda untuk driver yang memang bebal dan tidak memedulikan konsumen.

Source : akun line astronutt

0 Response to "SUKA DUKA OJOL (OJEK ONLINE)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel