Broken Home Bukan Hambatan

Broken Home Story


Masalah adalah sebagian dari ritme hidup. Kadangkala ada kehidupan yang tidak enak untuk di ingat dan tak mudah untuk dilupakan, namun pada akhirnya banyak pula orang yang bisa melaluinya, meskipun ada juga yang akhirnya memilih menyerah, tak mampu melewati nya.

Percaya deh, sebagian mudah sekali marah, sebagian lagi enggak. Sstt, tapi berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang terlalu lemah, karena dunia butuh banyak energi positif, apalagi untuk mengumpulkan amalan guna akhirat.

Mengapa enggak boleh lemah dan mudah mengeluh? Karena... setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah pada titik-titik kelemahan kita.

Jujur aja, aku bingung mau mulai menulis dari mana, karena kisah kali ini aku tulis berdasarkan kisah langsung yang dihadapi oleh salah seorang anak yang tidak mau disebutkan namanya. Dia orang yang sedikit tertutup tentang masalah pribadinya, hari-hari nya aku lihat selalu bahagia dia tetap terlihat tegar, tapi saat itu aku melihat dia sangat sedih dan menyindiri, aku coba panggil dia dan aku tanyakan apa yang sedang terjadi, "kenapa engkau semurung itu?"

Awalnya dia tak mau bicara, karena anak ini selalu tidak terbuka dan seolah tak ada masalah, tapi kali ini dia tetap tertutup tak mau bicara. Aku coba mencari cara, dan dengan sedikit pembuka dan akhirnya dia mau berbagi cerita dan bisa menerima ku.

"Hai Anak muda, apa gerangan yang membuat mu seperti ini? Apakah ada masalah?"

Lalu dia mulai bicara, "Jadi gini bang. Entah kenapa, ketika melihat orang bersama dengan Ayah dan Ibu nya ngumpul, ketawa-ketawa, jalan bareng, saya menjadi sedih sendiri."

"Kenapa begitu?", tanyaku padanya.

"Saya sudah hampir lupa kapan terakhir kali kumpul bersama keluarga, kapan makan bersama, kapan- kapan dan kapan bisa terjadi lagi. saya kangen sekali keluarga mengumpul semua, karena kebersamaan saat itu sudah tak pernah lagi", ujarnya.
"Maksudnya?", tanyaku lebih serius.

"Keluarga saya broken home bang,  kami sudah berpisah selama 5 tahun. Saya anak kedua, kami ada 5 bersaudara yang tidak tau dimana dan kepada siapa kami mengadu dan bercerita kehidupan ini. Orang tua kami pisah sudah 5-6 tahun",ujarnya.

"Apa masalahnya? Kenapa bisa berpisah??" tanyaku makin serius.

'Hanya karena masalah sepele menurut saya", tambahnya.

"Masalah orang ketiga?" ujarku.

"Bukan bang! Hanya karena ayah sudah jarang memberikan nafkah, dan malas bekerja, juga sering tidur. Jadi Ibu yang bekerja, ibu tidak tahan dan ingin berpisah", jawabnya.

Sob, menjalani hidup sebagai anak korban broken home, tentunya kita tau seperti apa rasanya, tapi bukan ini yang akan aku paparkan dalam tulisan sederhanaku tentang dia yang mengkisahkan hidupnya.

Ku sadari, bukan hal mudah menjalani peran sebagai anak korban broken home. Hingga kemudian, saat kaki ini mulai terasa lelah menapak alur skenario hidup, dalam pemberhentian di antara terik untuk sejenak mengusap peluh, seorang anak broken home harus belajar menatap titah hidup dari perspektif lain, pada sudut pandang yang nampak terang, tanpa bayang kabut yang menghijabi kebeningan hati.

Meskipun, broken home menjadikannya pincang tanpa seorang ayah, buta dan tuli tanpa kesempurnaan cinta seorang ibu.

Tapi, kisah seorang broken home mengajari, tentang bagaimana harus memanage konsep ikhlas dalam penerimaan terhadap titahNya. Menerima kehilangan sebagai bentuk proses penempaan untuk belajar mandiri menghadapi dinamika hidup, tidak terlalu bergantung pada sosok seorang ayah.

Broken home menuntunnya untuk semakin mendekat dengan ruang kesabaran dan membuka kesadarannya bahwa keluh tidaklah mampu meringankan beban yang menindih pundak. Hanya dengan mendekat, bercakap dan memohon pada-Nya kedamaian hati itu ia dapat.

Broken home menjadi penyemangat dalam kesungguhan menggapai mimpi, terus menanamkan sugesti bahwa kesuksesan tak kan mampu ia genggam tanpa kesungguhan dan tak pernah membiarkan semangat ini meredup, terus menyala dalam pengharapan akan masa depan yang lebih baik.

Broken home menjadi cambuk pelecut, atas pemetaan masa depannya tentang bagaimana ia harus mulai mempersiapkan diri agar kelak keluarganya tak terurai seperti kedua orang tuanya.

Menuntunnya untuk senantiasa berbenah menjadi manusia berkualitas agar kelak menjadi seorang ibu shalihah atau ayah yang shalih, yang mampu mendidik anak-anaknya dengan cinta dan berjalan seiring dengan suami dan istri untuk membentuk keluarga harmonis yang dekat dengan Rabbnya.

Broken home memproteksi hatinya, mematikan rasa agar senantiasa terjaga kesuciannya, tak tersentuh oleh sosok yang tak semestinya dan menanggalkan pengharapan dalam penantian yang keliru. Karena hanya Allah, Allah sang pemilik hati. Dia yang akan menentukan pada siapa esok hatinya akan tertaut membentuk ikatan suci.

Menjadi anak korban broken home karena Allah mencintanya lebih dari yang lain, Allah menginginkannya tumbuh menjadi individu tangguh yang senantiasa dekat denganNya.

Menjadi anak korban broken home? Kenapa harus menangis (lagi)??!

Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugrah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya, bagi hambaNya yang SABAR dan TAK KENAL PUTUS ASA. Jangan menyerah Jangan menyerah Jangan menyerah. (d’masiv)

Terus terang, kawanku itu termasuk korban broken home. Entah ini hanya kebetulan semata, tetapi semenjak dia mendapat ‘gelar’ anak broken home ia lebih suka menuangkan isi hati saja kedalam sebuah tulisan. Maupun cerita pendek atau puisi. Ia memang agak pendiam. Bagi orang yang tidak mengenal baik siapa dia pasti mengira dia sombong. Padahal, dia tak bermaksud bersombong. Tapi, memang dia agak tertutup dengan orang lain. Tidak semua yang dia alami, dia ceritakan kepada teman-temannya. Biasanya dia hanya memendam semua rasa atau kadang menulisnya. Broken home tidak merubah hidupnya, tapi broken home merubah pandangannya tentang hidup.

Bukannya ia bangga menjadi anak broken home. Percaya deh, tidak ada anak yang ingin terlahir menjadi seorang anak broken home. Namun, Tuhan punya rencana lain baginya. Tuhan memberikan sebuah pelajaran berarti yang belum tentu orang lain dapatkan. Broken home menjadi motivasinya untuk terus maju dan tak berlarut dalam kesedihan. Broken home bukan alasan untuk menenggelamkan segala citanya.

Meskipun terkadang orang-orang mungkin menganggap anak broken home aneh. Secara psikologis lebih tepatnya. Anak broken home punya kepribadian yang orang lain tak paham akan hal itu. Kenapa emosi kita labil sekali?

Orang-orang mungkin menganggap anak broken home aneh. Selalu dibilang nyari perhatian dimana-mana. Tak kenal tempat. Hei, apakah semurahan itu anak broken home? Satu hal, kalian hanya salah paham akan hal ini.

Sebagian dari anak broken home, menghilangkan kesedihannya lewat alkohol, rokok, bahkan narkoba. Sebagian lain berpikir, semua itu bisa menghilangkan segala kepenatan tentang masalah di keluarganya. Sebagian ini, hanya memilih jalan yang salah atau tidak menemukan jalan yang baik.

Namun, orang-orang tidak pernah menyorot tentang sebagian lagi anak broken home yang bangkit dan berusaha memperbaiki diri. Orang-orang hanya tau, mereka yang besar dan tumbuh dari keluarga broken home pada akhirnya akan menjadi anak yang rusak baik secara moral, akhlak maupun secara sosial. Tetapi sebagian yang berubah menjadi baik, tak pernah dipandang.

Sebagian kita yang berubah menjadi baik, yang berusaha memperbaiki dirinya agar tidak terjerumus pada jalan yang salah. Mereka berusaha menjadi anak yang baik, walau orang tua mereka berselisih, orang tua mereka bercerai. Sebagian kita yang berubah menjadi baik, berusaha menunjukkan pada dunia bahwa ada anak dari keluarga yang berantakan, keluarga yanh tidak utuh sebut saja broken home, namun tetap berpribadi positif. Sebagian kita yang memilih jalan menjadi baik, juga menyadarkan teman-teman yang senasib bahwa permasalahan yang terjadi diantara orangtua kita adalah bukan kesalahan kita. Semua tindakan pemberontakan yang kita lakukan, haruslah berbentuk pemberontakan positif.


Jika hari ini kita haus akan kasih sayang kedua orangtua kita yang utuh maka lampiaskanlah dengan berbuat baik kepada orang lain. Menjadi buruk memang mendapat perhatian, namun menjadi baik akan mendapat perhatian yang berlipat ganda. So, kita jadikan diri kita lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang lain. Mari kita coba

Sob apapun defenisi broken home  namun teruslah di jalan ya baik dalam kebaikan. Karena, kita yang tau hati kita. Jika iya menjerit, biar jeritan itu kita saja yang dengar. Namun, jika ia tertawa, seluruh dunia harus ikut tertawa bersama kita. So, jangan biarkan kita terlihat menyedihkan, dunia tidak akan peduli.

Mudah-mudahan bermanfaat.

baca juga >> jual akun line@ murah

0 Response to "Broken Home Bukan Hambatan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel