Pilihanmu Menjadi Cangkir atau Lautan

Sejenak aku merenung, bahwa di negeri tercinta Indonesia ini masih sedikit ditemukan anak-anak muda yang memiliki mimpi untuk menjadi pengusaha/enterpreneur. Ya... Membangun usaha yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. 


Atau setidaknya, bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Seandainya tidak, paling tidak membuka lapangan kerja untuk dirinya sendiri. Kawan, coba bayangkan jika setiap lulusan sarjana itu berpikir demikian, maka menurutku insyaAllah tidak akan ada yang namanya pengangguran. Hmm...

Masih sedikit sangsi dengan pemikiranku? Coba tanyakanlah ke beberapa orang muda yang kamu temui, ketika masih kuliah atau baru saja mulai merintis karir. Bertanyalah kawan,“Hai sobat, kamu besok mau jadi apa, mau kerja apa dan dimana?” Jangan kaget kawan, mungkin jawaban yang paling sering kita dapatkan adalah, "saya ingin menjadi ….., kemudian saya ingin kerja di perusahaan X." Ya, sudah kuduga.

Jarang akan kita dapatkan jawaban, "saya ingin bikin usaha sendiri!" Maaf kawan, namun jika kata-kata itu ditafsirkan dalam bahasa yang lebih kasar, maka "Kita kuliah untuk mempersiapkan diri kita menjadi karyawan? Bukan begitu? Kenapa kita tidak menjadi bosnya saja?" 

Ya, jawabannya adalah karena kita tidak memilih untuk menjadi bos. Padahal kawan, menjadi bos itu enak, sekaligus susah. Bagaimana tidak? Kita diberikan amanah Allah rejeki orang lain yang diberikan melalui kita. Nah, rejeki kita yang tadinya jika dimisalkan hanya satu gelas air yang cukup untuk kita minum sendiri, eh besoknya harus menjadi satu galon air yang cukup untuk memberikan minum kita, keluarga kita, bahkan orang lain. Maka kawan, bukan tidak mustahil Allah memberikan rejeki kita seluas lautan, kita akan minum sampai matipun orang lain masih ikut bisa meminumnya. Maka, apakah kita akan menjemput rejeki kita? Atau menunggu rejeki kita datang? Kawan, kita bisa mengambil rejeki dari jalan apapun, jalan baik ataupun buruk, karena rejeki kita telah ditetapkan.

 Nah, jika sudah disiapkan 100 Milyar, kita bisa mengambilnya dari jalan korupsi misal, ataupun dengan cara yang baik, berusaha bekerja halal, itu yang utama dengan jalan baik lagi berkah. Kawan, semua itu bisa kamu pilih. Namun yang jadi salah adalah, jangan jadikan rejeki dunia itu menjadi orientasi utama, maka anggaplah rejeki di dunia itu surga yang dipercepat datangnya. Sesuatu yang akan dimintai pertanggungan jawab kelak di negeri akhirat tetap pada akhirnya. “Barangsiapa yang menjadikan dunia ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui kedua matanya dan Allah tidak memberinya harta dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.”

 “Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan tunduk).” (HR Ibnu Majah 4095)

 Kawan... Rejeki kita, kitalah yang memilih dan mengusahakan. Allah hanya mengisyaratkan bagaimana cara mencari rejeki yang baik, yaitu yang tetap berorientasi pada akhirat. Kawan, berniaga pun memeperbesar upaya kita untuk menjadikan diri lebih bermanfaat untuk orang lain dengan ikhtiar kita salah satu caranya. Lantas, apakah kita akan mencari segala rejeki berupa materi untuk kita habiskan sendiri bersama keluarga kita? Mengapa kita tidak mencoba berpikir untuk ikut serta mencarikan rejeki bagi orang lain yang tidak mampu? Kawan, barangkali Allah mau menitipkan rejeki orang lain kepada kita, melalui kita, dan lantas kita menyalurkannya kepada yang bersangkutan, melalui wirausaha.

salam
 "Ummi Alifa"

0 Response to "Pilihanmu Menjadi Cangkir atau Lautan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel