Lupa diri, sadarkah kita? "Deni H"

                               (dikutip foto soraya)

Tidak lama lagi kita akan memasuki tahun 2017. Tidak pandang usia, dari mulai anak-anak sampai orang tua tidak sabar untuk menanti kedatangan tahun baru, lebih tepat nya malam tahun baru. Dengan senang hati mereka menikmati malam tahun baru sampai datang nya subuh. Berbagai kegiatan dilakukan seperti membakar ayam, membakar ikan, meniup terompet dan menghidupkan kembang api. Sehingga malam itu begitu istimewa, tak seperti malam-malam sebelum nya. Sehingga wajar anak muda sangat menanti kedatangan malam tahun baru bersama kekasihnya, agar mendapatkan suasana yang romantis. Dan ini selalu dilakukan dari tahun ke tahun, entah kapan akan berakir pesta euphoria seperti ini.

Mari kita lihat secara jernih, ada apa sebenarnya di malam tahun ini.

Tahun baru merupakan suatu proses pergantian waktu, dari satu tahun ke tahun berikut nya dengan massa waktu 12 bulan atau 365 hari. Jika makna dari tahun baru adalah pergantian waktu maka apa beda nya dengan pergantian jam, pergantian hari dan pergantian bulan. Hanya massa nya saja yang berbeda. Jika hanya massa yang berbeda kenapa harus istimewa? Bukankah pergantian hari senin ke hari selasa, juga pergantian waktu? Bukankah pergantian bulan Januari ke Februari juga pergantian waktu? Lantas, kenapa hanya tahun baru yang istimewa? Kenapa pergantian hari dan pergantian bulan tidak di istimewakan?

Sebenarnya hati nurani kita mengatakan bahwa pergantian waktu itu biasa tidak istimewa. Hanya saja otak, hati dan sikap kita dipengaruhi oleh apa yang di lihat dan kita baca. Dengan kondisi informasi yang mudah di dapat, pertukaran budaya tanpa filter dan pribadi kita sangat mudah menerima hal-hal yang menyenangkan maka pesta euphoria malam tahun baru ini selalu dilakukan dari tahun ke tahun. Kita sudah terpengaruh dan sudah lupa diri.

Malam tahun baru itu biasa tidak istimewa. Sama seperti malam-malam sebelum nya. Hanya saja kita yang merayakan malam itu sehingga kelihatan istimewa. Apakah pantas malam tahun baru kita istimewakan padahal pada malam itu kondom berserakan dimana-mana, minum keras laku keras, hotel berbintang kekurangan kamar, pondok-pondok menjadi tempat sandaran. Sadarkah kita bahwa kita sudah terpengaruh dan lupa diri.

Pesta merayakan malam tahun baru adalah budaya barat. Sementara kita orang timur, tidak pantas melakukan itu. Lantas, kenapa budaya merayakan tahun baru dilakukan oleh orang barat?

Ketika manusia lahir dan tumbuh dewasa, sikap dan pola hidup nya di pengaruhi oleh lingkungan keluarga. Dalam satu keluarga membentuk lingkungan keluarganya berdasarkan apa yang dia yakini sehingga agama menjadi panduan hidup. Dengan adanya interaksi antar satu lingkungan keluarga dengan lingkungan keluarga lainnya maka terbentuklah saatu kebiasaan daerah atau kebiasaan Negara yang kita sebut dengan budaya. Dan pesta merayakan malam tahun baru merupakan budaya barat, karena mereka mayoritas manganut agama Nasrani.

Lalu apa hubungannya budaya pesta malam tahun baru dengan agama Nasrani?

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Tahun baru, 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun saat ini, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.

Padahal setiap agama punya tahun baru dan cara perayaan yang berbeda. Agama Hindu menghitung tahun baru nya menurut kalender saka. Umat agama Hindu merayakan tahun baru saka dengan Nyepi. Dimana tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Sedangkan agama Islam menghitung tahun baru nya menurut kalender Hijriyah yang jatuh pada tanggal 1 Muharaam. Umat Islam, setiap pergantian waktu dianjurkan untuk Muhasabbah diri. Sehingga tidak ada perayaan khusus untuk merayakan tahun baru.

Kita sebagai umat Islam harus sadar diri bahwa tahun baru masehi bukan hari besar kita sehingga tidak perlu ada perayaan khusus. Bung, ini bukan sebatas budaya tapi sudah lintas agama. Sadarkah kita?

Salam
Deni Hendra
(Ketua Umum YKKI)

0 Response to "Lupa diri, sadarkah kita? "Deni H""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel