Untukmu yang Masih Memikul Amanah ''Candra''

Selamat Datang
Untukmu yang Masih Memikul Amanah ''Candra''

Hal yang paling saya takutkan dalam menulis ini adalah timbul kesan seperti menggurui. Padahal secara pemahaman saya masih dalam tahapan belajar. Oleh sebab itu, melalui kesadaran inilah saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini adalah upaya untuk menjelaskan bagaimana LDK (Lembaga Dakwah Kampus) itu dalam kesehariannya.



Mungkin ada yang bertanya-tanya, “kalau seperti itu tulisannya nggak objektif dong?”. Awalnya saya juga berpikiran seperti itu, tapi timbul juga pertanyaan lain, “Adakah orang lain di luar LDK yang mampu menuliskan ini?”. Tentu jawabannya tidak. Maksud saya adalah sederhana, bila tulisan memuat tentang sebuah organisasi, maka yang lebih pantas menuliskan kisahnya adalah pelaku yang bersangkutan, bukan penonton khalayak ramai. Peran  penonton adalah menyimak, melihat, dan terlibat dalam batas tertentu. Kecuali penonton tersebut mampu membuat riset dan metodologi yang sempurna berkaitan dengan fokus organisasi tersebut. Namun, tetap saja terjadi korban uang dan waktu.

Pertama, saya berupaya menjelaskan ini dalam rangka berbagi pengalaman. Bersadarkan apa yang pernah saya alami, tanpa meninggalkan pesannya. Menyampaikan apa adanya tanpa majas hiperbola. Mengapa tulisan ini hanya membahas LDK? Jawabannya singkat. Saya pelaku dan ini adalah dapur kami. Tentu tidak baik dalam pandangan umum, seandainya pembahasan ini fokus pada pergerakan lain, sementara saya disana bukan siapa-siapa. Bukan pelaku, bukan pengurus. Saya juga tidak bisa membayangkan seandainya tiba-tiba tulisan ini membahas tentang pergerakan lain, seolah-olah saya masuk dapur orang dengan paksa dan mengobrak-abriknya, kemudian menuliskannya dengan senyuman. Tentu keadaan dapurnya tidak baik lagi, bukan? Oleh sebab itu, saya menghindar untuk menulis dapur orang lain. Lagi pula setiap dapur juga memiliki pasionnya masing-masing. Tak baik mengganggunya. Terima kasih sudah maklum.

Kedua, upaya ini dilandasi dengan niat agar pergerakan mahasiswa, khususnya pada orientasi Islam, mampu saling memahami, mengurangi kegelisahan pihak tertentu, dan menjaga keutuhan sikap untuk bekerjasama demi persatuan Indonesia yang kita cintai ini. Barangkali ada yang sensi, “Ah, terlalu berlebihan bicara Indonesia?”. Jujur saja, saya tak bisa menguraikan ini lebih lanjut, saya hanya berkeyakinan bahwa perbedaan pergerakan ini akan mampu bersinergi dengan baik dikemudian hari. Kapan? Masalah waktu sikap kita sama, sama-sama tidak tahu ujungnya. Saya menulis Indonesia, bukan berarti saya hebat dan bisa segalanya. Saya hanya khawatir, bisa jadi konspirasi Internasional sudah sampai di Indonesia, yang mampu memecah belah persaudaraan, teman jadi lawan, dan lawan jadi musuh bebuyutan. Lihatlah seperti bumi Irak yang jauh disana, atau bumi Syria yang lumpuh oleh pemimpinnya, atau bumi Afrika yang tak pernah maju-majunya. Mesir dan Palestina sama saja, tak pernah ada kompaknya. Belum lagi bicara negeri minyak, mudah-mudahan Allah membimbing kita.

Untuk menjelaskan bagaimana seluk beluk LDK, izinkan saya menjelaskan lebih awal sejarah dan pergerakannya. Aduh, pasti panjang kan? Tidak. Tidak salah lagi maksudnya. Baik, saya akan menuliskan dengan singkat tanpa menghilangkan poinnya. LDK adalah sebuah lembaga kemahasiswaan intra kampus yang terdapat di setiap perguruan tinggi di Indonesia, kalau masih belum percaya kita bisa mengeceknya secara langsung. Bisa dikatakan hampir setiap kampus memiliki LDK, terutama kampus yang sudah mapan. Tapi untuk sebutan namanya sangat bervariatif. Biasanya tergantung dengan kearifan lokal setempat, sistem kampus, dan perogatif organisasi bersangkutan.

Sejarah pembentukan LDK ini dapat dikatakan cukup lama, sekitar era tahun 60an. Namun perkembangannya belum bisa disebut masif, ini juga berhubungan dengan kondisi sosial budaya Indonesia saat itu. Dengan telah berkembangnya LDK sampai ke kota Cendrawasih, maka dibuatlah wadah komunikasi tingkat nasional yang disebut sebagai Forum Silahturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN). Di FSLDKN inilah pembahasan tentang organisasi dan peran buat masyarakat dibahas sedemikian rupa. Tidak hanya sampai disitu saja, pembahasan akan ditindaklanjuti melalui Forum Regional yang disebut Forum Silahturahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD). Dari sinilah akan dibentuk sejenis koordinator daerah untuk menghandel dan memenuhi kebutuhan setiap LDK di regional tersebut. Sekali lagi, selamat datang.

Wisma: (Bukan) Rumah Kedua
Ada yang menarik dari pertanyaan teman saya. “Apakah masuk LDK harus tinggal di wisma?”. Kira-kira begitu katanya. Kondisi saya ketika sebelum menjadi alumni kampus adalah fifty-fifty. Maksudnya adalah 2 tahun kos bersama teman, dan 2 tahun lebih sedikit tinggal di wisma. Saya merasa bersyukur punya kondisi seperti ini, merasa lebih bisa memahami orang lain. Pernahnya saya tinggal di kos membuat sikap bisa maklum terhadap keraguan beberapa pengurus yang belum siap tinggal di wisma. Wisma dan kos pembedanya hanyalah lingkungan. Tapi masih banyak juga orang bertanya tanya, mana yang lebih baik antara wisma atau kos. Untuk menjelaskan ini, adalah baik bila saya menjelaskan lebih dulu bagaimana semua ini harus disikapi dengan arif. Agar dikemudian hari tidak terjadi pemahaman yang kabur atau seolah-olah ada pengkotakan.

Namun, yang jelas sistem wisma ini tidak berlaku mutlak bagi LDK di seluruh Indonesia. Lagi-lagi tergantung dengan cara mengelolah saja. Kalaupun dipukul rata harus punya semua, menurut saya perlu kerangka pemahaman bersama, agar dalam prakteknya tidak terjadi ketimpangan. Kesulitannya ada pada bagian tersebut, karena karakter regional wilayah tidak pernah sama. Apakah sudah pernah dicoba?  Menurut informasi yang disampaikan pendahulu kami, ini pernah dilakukan di Kota Pekan Baru, dan hasilnya nihil. Usia wismanya tidak panjang.

Setiap kita pada dasarnya punya alasan tertentu dalam mengambil tindakan. Pernyataan ini pula yang harus kita bawa dalam memahami pengurus yang masih tinggal di kos. Pola alasan yang sering terjadi adalah (1) Pengurus ingin lebih fokus dalam belajar. Tapi bukan berarti di wisma tidak bisa fokus, melainkan perbedaan karakter dalam belajar itu sendiri. Ada yang tidak bisa belajar dalam keramaian, ada yang tidak bisa mendengar musik sambil belajar. Sementara di wisma kondisinya sangat berbeda, penuh keramaian, yang suka musik biasanya belajar sambil mendengarkannya, penuh aktivitas pribadi, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pengurus yang tergolong alasan ini, belum mampu berbaur dalam keramaian karena perbedaan tipe belajar. (2) Pengurus masih setia pada rumah kosnya. Kasus ini menurut saya yang paling sulit, tidak mungkin kita memisahkan rasa setia mereka secara langsung, tentu rasa setia ini dalam pengertian masih ada rasa aman di rumah tersebut, belum bisa berpisah dengan teman satu kos, dan terikat kontrak dengan yang punya kos. Kita pun tidak bisa memaksakan mereka untuk tinggal di wisma, dan mereka yang tergolong alasan ini harus paham bahwa rasa setia di wisma sebenarnya dapat dibuat sedemikian rupa.

Apakah ada alasan tidak tinggal di wisma karena tidak mau diatur? Walaupun presentasenya tidak begitu jelas, saya rasa ada. Tapi tidak dalam definisi tidak mau diatur, melainkan belum bisa merubah pola kebiasaan lama, atau masih nyaman dengan pola lama. Mungkin kita juga sependapat dengan pepatah lama ini, “dua hal yang sulit itu adalah membiasakan apa yang tidak terbiasa, dan merubah apa yang sudah terbiasa”. Kedua pesan ini sama dan sederhana, bahwa merubah kebiasaan itu perlu tenaga dan konsistensi. Kos dan wisma masing-masing mempunyai konsekuensi, mampu menghadapi konsekuensi ini menurut saya yang harus kita miliki, bukan menyalahkan keadaan.

Faktanya begini, masih banyak diantara pengurus yang belum siap menerima konsekuensi. Anggaplah konsekuensi bila tinggal di kos adalah terjadi diskomunikasi terutama dalam hal menghadiri agenda rutin dan terlambatnya mengetahui informasi seputar Islam. Sementara konsekuensi bila tinggal di wisma yang paling umum adalah harus mampu memahami rasa dan perasaan saudara lainnya. Sebab kehidupan di wisma lebih heterogen, penuh dengan latar belakang daerah, dan penuh dengan latar belakang kepribadian. Saya agak gamblang menyampaikan ini, agar dikemudian hari tidak terulang. Jangan sampai kita yang tinggal di wisma mengambil enaknya saja, seperti harga sewanya lebih murah, tanpa harus menerima konsekuensi yang disebutkan di atas. Ini juga yang sering saya takutkan, keluarnya pengurus dari wisma mengambil alasan karena keadaan wisma yang buruk, dengan alasan ini tampak seolah-olah wisma itu bukan tempat yang baik. Padahal bisa jadi, keluarnya pengurus dari wisma karena ketidakmampuannya menerima konsekuensi yang benar-benar rasional.

Tapi perlu dicatat juga, bila presentase yang keluar wisma cukup tinggi maka bisa jadi kesalahan terletak pada managerial wisma itu sendiri, misalnya kurang bersih, kamar yang kotor, atau WC yang tidak bersahabat. Disinilah diperlukan musyawarah untuk mencari solusinya, dan sebaiknya yang tinggal di wisma harus menghindari buruk rupa cermin dibelah. Sebagaimana yang saya tulis sebelumnya, kos dan wisma pembedanya adalah lingkungan, maka sudah maklum bila tinggal di wisma akan ditemui lingkungan yang cukup Islami. Misalnya, setiap ba’da subuh ada agenda rutin seputar Sirah Nabawiyah, Sirah Sahabat, Mengaji bersama, dan informasi seputar kampus. Bahkan makan pun biasanya bersama-sama, katanya sih kebersamaan, dan saya sepakat untuk hal ini. Apakah itu tidak menjijikan? Pengertian makan bersama itu makan pada wadah/ talam yang besar. Masing-masingnya secara tidak langsung punya kapling untuk dimakan, dan hukum tidak tertulisnya setiap kita dilarang makan pada daerah kapling teman.

Dengan makan bersama sebenarnya kita punya segalanya, punya sayur, punya ikan, punya ayam, telur dan sejenisnya. Dalam kasus tertentu, perkara makan ini juga yang biasanya menimbulkan problema. Ada teman yang hampir setiap hari membeli ikan, ada juga yang hampir setiap hari membeli telur. Disinilah maksud saya perasaan dan rasa diuji oleh Allah. Seandainya teman yang membeli ikan tidak bisa ikhlas, karena seolah-olah selalu dia yang membeli ikan saat makan, dan berdampak pada keuangannya, maka bila ini dibiarkan bisa menjadi penyakit hati yang menahun. Si pembeli telur juga harus sadar diri dengan perasaan teman sekitar, bahwa membeli telur berkepanjangan memberi kesan pelit dari orang yang melihatnya, walupun protein dalam telur itu sebenarnya tinggi.

 Dengan demikian, terjawab sudah apa yang harus dilakukan si pembeli telur, yakni harus mampu membeli lauk/ sambal yang lebih variatif. Sedangkan jawaban untuk si pembeli ikan, harus mampu mengolah rasa ikhlas, dan cukup kepada Allah saja kita berharap. Mudah-mudahan Allah membimbing kita.

Itu lingkungan wisma, bagaimana dengan lingkungan kos? Apa yang harus mereka lakukan? Saya punya saran yang tidak mengikat untuk hal ini. Sebagaimana yang telah dijelaskan, lingkungan itu bisa dibentuk sedemikian rupa dan bisa dimanipulasi juga. Pengurus yang tinggal di kos dapat meniru pola yang ada di wisma, terutama dalam hal mendalami ilmu tentang Islam. Misalnya, setiap selesai sholat baca Al-Quran, membeli buku Islami atau setidaknya punya buku yang sama dengan yang ada di wisma, sholat berjamaah, dan kegiatan baik lainnya. Dengan demikian ketertinggalan seputar Islam dapat diminimalisir. Ini cerita saja, saat masih di kos saya merasa beruntung memiliki teman yang luar biasa. Tidak hanya akademik, ibadahnya menurut saya dapat menjadi tauladan. Banyak sekali aktivitas baik yang dilakukannya, apalagi setiap selesai sholat selalu membaca Al-Quran. Dengan kemampuan yang kita miliki, kita bisa menjadi seperti dia (teman saya). Menjadi contoh bagi lingkungan kos, konsisten dengan ibadah yang dikerjakan sekalipun itu kecil.

Ada sebab kenapa wisma disebut (bukan) rumah kedua. Semua pengurus LDK pada intinya adalah satu kesatuan. Kurang baik bila ada dikotomi di dalam badan kepengurusan tersebut. Tidak enak juga bila terdengar sebutan ADK (Aktivis Dakwah Kampus) wisma dan non wisma. Seolah-olah ada golongan yang ahli, dan satunya lagi tidak. Benar-benar sebutan yang tidak pantas. Pengertiannya dalam bentuk fungsi bahwa wisma adalah tempat belajar, bukan sekedar fisik sekian meter, dan terbuka untuk siapa pun. Bahkan untuk menjaga silahturahim diantara pengurus, biasanya diadakan seperti syukuran, miriplah seperti panggang ayam bersama, makan gorengan sama-sama, dan makan nasi berjamaah. Kedepan, menurut saya ialah pengurus harus bisa menjaga keutuhan LDK itu sendiri, karena selain keluarga di rumah, LDK adalah rumah kedua kita. Sudah sepantasnya kita rapikan, kita tata sebaik mungkin.

Visi LDK itu tidaklah rumit, organisasi ini menginginkan setiap kita agar tidak bersikap apatis dan tidak benci kepada Islam itu sendiri. Adalah wajar setiap pergerakan memiliki coraknya masing-masing. Termasuk dalam hal ini LDK. Salah besar bila banyak orang mengatakan menjadi ADK harus seperti ustad, seperti ulama, atau seperti buya. Syukur-syukur ada yang menjadi seperti itu, namun proses belajar di LDK tidak sama dengan sekolah Islam.

Di sekolah Islam tentu lebih komprehensif mengenai kurikulumnya, wajar bila alumninya menjadi agamawan, sementara di LDK pembahasannya seputar ma'rifatul (mengenal) Allah, Rosul, Insan, dan Al-Quran. Kemudian ditambah kajian kontemporer lainnya, seperti isu kemanusiaan, isu lingkungan, dan sejenisnya. Untuk pengurus harus diingat, bahwa setiap perkembangan pergerakan selalu memiliki dinamika, ini berlaku juga di tubuh LDK. Jagalah rumah kedua ini sebaik mungkin, searif mungkin, jangan sampai generasi mendatang hanya bisa mengingat nama, bahwa di Indonesia dulu pernah ada LDK. Tugas pemimpin LDK tidak hanya punya tanggung jawab besar, namun harus lebih dari itu. Lebih cermat melihat perkembangannya, lebih mawas diri terhadap perubahan budaya organisasi. Yang disebut terakhir ini saya minta kesungguhannya, karena sudah banyak pergerakan di Indonesia yang pecah internal. Lihatlah ormas, pergerakan, atau kelompok yang dulunya berjaya dan punya segalanya, namun kini tidak ada lagi pemiliknya. Jagalah rumah kedua ini.

LDK: (Bukan) Tiga Ranah
Sambil menyelidiki, teman saya bertanya, “Kenapa ADK itu fokusnya itu-itu saja (kerohanian)?” Atau yang lebih umumnya, “Koq setiap pemilu kampus nyalon terus?”. Adalah wajar bila banyak orang bertanya-tanya mengenai ini, kewajaran pertama disebabkan oleh ketidaktahuannya dan kewajaran kedua dikarenakan oleh belum sempatnya cek dan recek bagaimana ADK itu sendiri. Fokus kerja LDK itu pada awal pembentukannya meliputi ranah kerohanian, ranah umum, dan ranah akademik. Setiap ranah memiliki karakter masing-masing yang kemudian akan berpengaruh pada peran ADK yang terlibat di dalamnya. Namun, dapat dipastikan bahwa ranah kerohanianlah yang menjadi prioritas setiap ADK. Ranah keronian ini diterjemahkan sebagai LDK itu sendiri, atau ditinggkat fakultas paling umum disebut Forum Studi Islam. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, masing-masing perguruan tinggi di Indonesia memiliki nama LDK yang lebih beragam. Ditingkat kampus biasanya terintegrasi dengan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sementara ditingkat fakultas lebih kepada cabangnya.

Di ranah ini, program kerja yang ditawarkan cukup banyak, yang memerlukan konsistensi terletak pada agenda mingguannya. Bayangkan saja, setiap minggu pasti ada minimal satu kajian keislaman. Paling banyak 3 kajian, bagi pengurus yang tidak berhalangan wajib mengikutinya. Jujur saja, pada awal-awal kuliah memang terasa berat, tapi seiring berjalannya waktu bila diikuti dengan baik manfaatnya sangat terasa. Apalagi setelah menjadi alumni kampus, bagi kita yang tidak maksimal rasanya ada yang kurang. Oleh sebab itu, jangan sampai perasaan tersebut terulang dari generasi ke generasi. Pengurus juga wajib menyukseskan agenda tahunan yang diadakan LDK, setidaknya dengan mengambil peran dikepanitiaan ada pengalaman yang bisa diambil. Manfaatnya sangat jangka panjang, terutama dalam dunia kerja yang memerlukan kemahiran praktis. Dari semua ini, uniknya adalah timbul isu normal yang disematkan kearah LDK. “Program sebanyak itu, dari mana uangnya? Kira-kira begitu isu yang berkembang.

Saya merasa beruntung bisa menjelaskan ini, dengan harapan tidak ada lagi pertanyaan serupa. Keunikan di LDK itu terletak pada pengurusnya yang Insya Allah setia berinfak. Banyak dari program kerja yang dibangun oleh pondasi keuangan pengurus, baik itu sifatnya sukarela maupun ditetapkan. Faktor sederhana yang menjadikan ini semua disebabkan oleh sumber keuangan LDK itu memang tidak ada, kecuali LDK ditingkat Universitas. Agar LDK (tingkat fakultas) ini tetap bisa bekerja, tidak ada jalan lain kecuali patungan dari setiap pengurus. Entah kenapa rasanya ada kebahagian tersendiri bila bisa berkontribusi. Walaupun demikian, saya punya saran untuk hal ini. Baiknya setiap kepengurusan mampu mencari sponsorship untuk masing-masing kegiatan, upaya ini agar terbentuk managemen yang lebih baik lagi. Pembuatan proposal bisa diupayakan pada awal-awal tahun, sebab pembukuan keuangan di perusahaan atau lembaga sponsor tidak pernah akhir tahun. Jadi, kalau terlambat sedikit saja, biasanya proposal akan ditolak. Ditolak dengan kabar masih mending, tapi ditolak tanpa kabar? Sama persislah digantung tak bertali.

Menurut saya kejadian yang tidak perlu diulang ialah rasa malas yang berkelanjutan dari pengurus. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap organisasi apapun nama dan bentuknya masalah dasarnya tetap rasa malas dari pengurusnya. Ada teori sederhana untuk menjelaskan semua ini, entah kenapa semuanya terasa sesuai dan benar. Teori ini berasal dari kajian Psikologi Sosial, yang menyatakan bahwa semakin banyak yang terlibat semakin sedikit yang bekerja. Saya protes keras terhadap teori ini, walaupun tidak tahu harus berbuat apa. Protesnya terletak pada kenapa seolah-olah ini sebuah hukum yang tetap, sebuah hubungan sebab akibat. Kendatipun pada prakteknya sangatlah benar. Sepanjang pengalaman saya berorganisasi, teori ini entah kenapa selalu ada dalam praktisnya. Selalu saja sedikit dari pengurus yang bekerja. Mungkin ada benarnya kata orang terdahulu, cukup sedikit orang saja yang membangun republik ini, lihatlah cerita pendiri negeri ini, pengikutnya tidak banyak, bahkan ada yang hitungan jari.

Barangkali ada yang bertanya, “Apa batasan/ indikator pengertian “banyak” dari teori tersebut?”. Apakah jumlahnya ratusan? Atau bahkan ribuan? Saya juga belum mampu menetapkan indikatornya, tapi kita bisa mensiasati ini semua dengan cara melihat jumlah keseluruhan pengurus yang berperan di LDK. Seandainya jumlahnya melebihi 40 orang (terutama pengurus di fakultas) kita bisa sepakat bahwa ini sudah tergolong banyak. Permasalahannya lagi-lagi terletak pada sedikit dari pengurus yang bekerja, hal ini dapat kita lihat dari keaktifan, bila keaktifan kurang dari 50% pengurus, bisa jadi ini penyakit malas, hati-hati. Ingat, bagi pengurus yang masih aktif (walaupun sedikit) jangan bersedih hati, jangan kecewa, jangan patah semangat. Seandainya ukuran sedikit dan banyak dijadikan sebagai keberhasilan, sudah lama pendahulu kita mundur tanpa meninggalkan jejak. Artinya, permasalahan keaktifan ini jamak terjadi dilintas organisasi. Tugas selanjutnya ialah, pengurus harus mampu mengajak pengurus lain yang masih terkendala dalam keaktifan. Sangat disayangkan, kalau kita dapat pengalaman, sementara lainnya hanya dapat nama.

Izinkan juga saya memberi saran pada pengurus yang berhalangan aktif. Saya yakin tidak bisa dikupul rata bahwa ketidak-aktifan ini disebabkan oleh rasa malas, ada faktor lain yang mempengaruhinya. Tapi khusus yang beralasan malas, maafkan saya bila menyinggung perasaan. Peran kita di LDK ini sangatlah besar, amanah yang digenggam pun tidaklah sepele. Bagaimana mungkin bangunan besar ini tegak dan kokoh, seandainya pasir di dalamnya, kerikil dan batu-bata tidak saling menguatkan. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Pasir sibuk ingin keluar dari celah bengunan, kerikil ngotot ingin menonjolkan diri, celakanya batu-bata serupa dan sama. Siapa lagi yang bisa dipercaya kecuali pengurus yang terlibat. Tidak ada lagi. Maka sudah sepantasnya kita mengambil peran, tidak pantas bermalas-malasan. Apakah bermalas-malasan adalah solusi? Kan tidak. Lelucon teman saya ada benarnya, bahwa penyesalan selalu datang terlambat, kalau datang cepat itu namanya pendaftaran. Begitu pun dengan konsekuensi bagi kita yang belum aktif, penyesalannya terletak pada saat menjadi alumni kampus. Kita dapat nama, tapi soal berbuat nol besar.

Sekarang putuskan, apakah tetap bermalas-malasan atau ingin merubahnya. Tidak ada kata terlambat selagi kita mau dan berniat. Soal generasi pesan dalam Al-Quran itu bisa menyadarkan, “takutlah kamu bila meninggalkan generasi yang lemah”. Pengaruh rasa malas itu menurut saya sampai keurusan generasi ini. Apalagi pelaku malasnya timbul dari senior yang cukup lama hidup di kampus. Pengaruhnya itu simpel sekali, rasa malas itu akan ditiru oleh adik-adik yang baru memulai. Semacam pengaruh tauladan, kalau baik akan ditiru, kalau buruk juga demikian. Kalau tidak paham juga, ingat saja pesan Zainuddin dalam kisah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, “Jangan mengecewakan hati orang yang berlindung kepadamu”, yah artinya, jangan kecewakan banyak orang atas kemalasan dalam mengemban amanah yang dijalani. LDK sudah memberikan kepercayaan kepada kita untuk mengelolah amanah ini, menjaga amanah bukan semata-mata janji kita kepada sesama pengurus, melainkan lebih besar daripada itu, yakni janji kepada Allah SWT. Dimanapun ditempatkan, maka jangan mendustai.

Sebagaimana namanya, ranah umum fokusnya lebih banyak ke BEM, HIMA, dan organisasi umum lainnya. Tapi proyeksi pengurus keranah ini lebih selektif dan menyesuaikan keadaan, tidak dalam artian prioritas. Penyesuaian yang sering dilakukan dengan cara melihat kesiapan ADK itu sendiri. Kalau belum siap atau bahkan tidak ada pengurus yang mau kesana, maka sama sekali tidak menjadi masalah. Itu sebab terlihat merata dibanyak fakultas atau perguruan tinggi ada calon Presma, BEM, atau HIMA yang didukung oleh ADK. Dukungan ini bukan berarti ranah umum adalah segala-galanya, hanya saja di LDK punya prinsip bagaimana nilai-nilai Islam itu bisa dikenal orang banyak. Tentu dengan cara mengelolah BEM atau HIMA, karena disinilah pendekatannya lebih kompleks. Dengan harapan program kerja yang ditawarkan mampu diikuti dan dicontoh oleh kalangan mahasiswa. Sejenislah seperti berlomba-lomba dalam kebaikan.

Perlu diingat, bagi pengurus yang diamanahkan keranah ini, tugas kita adalah berat. Banyak tenaga, waktu, bahkan uang yang harus diikhlaskan. Ranah umum ini, kalau mau diumpamakan sama persis seperti mengolah sawah. Sawah bila diolah dengan cara yang benar, banyak sekali manfaat yang akan dituai. Tantangannya pun pasti ada, terutama pada bagian interaksi sehari-hari. Saya yakin interaksi pengurus tidak selalu datar-datar saja, pasti ada gejolak perdebatan, gejolak dinamika, gejolak konflik, dan gejolak perasaan.

Gelojak ini mirip seperti lumpur dan serangga yang ada di sawah, yang semakin lama berdiam disana, semakin kumuhlah badan kita. Efek nyata dari gejolak ini dapat dilihat dari rasa malasnya pengurus untuk membaca Al-Quran, sholat berjamaah (tepat waktu), dan ibadah lainnya. Fenomena ini bisa disebut sebagai pengikisan ruh. Satu-satunya jalan untuk membersihkan tumpukan kumuh di badan adalah membasuhnya dengan air. Pengertian membasuh disini maknanya simbolik. Arti sesungguhnya ialah kita harus berupaya membersihkan diri dengan mengikuti program keislaman yang diadakan LDK, selain itu pendekatan ibadah secara konsisten harus dikerjakan. Bila usaha yang dilakukan berjalan baik, Insya Allah sawah yang dikelolah akan menguning dan bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Inilah visi kita seandainya dipercaya mengemban amanah di ranah umum. Maka bersiaplah dengan kemungkinan-kemungkinannya.

Apapun yang diperankan oleh ADK, mudah-mudahan yang tidak pernah hilang adalah cara interaksinya dengan lawan jenis. Bila melihat budaya organisasi umum tantangan terbesarnya ialah bagian interaksi ini. Dalam pandangan umum, mungkin orang akan bersimpulan bahwa ADK itu kaku, tidak luwes, tidak gaul, atau semacam lainnya. Tapi perlu dicatat bahwa prilaku tersebut semata-mata untuk menjaga prinsip. Gaya interaksi yang tidak bersentuhan tangan dengan lawan jenis, semata-mata demi menjaga kehormatan lawan jenis itu sendiri, sebagaimana Rosulullah contohkan. Ini gaya kita untuk berbaur, usaha kita untuk tidak melebur, dahulu, kini dan nanti. Sepantasnya setiap pengurus jangan pernah patah arang bila kejadian ini berlangsung. Tetaplah hanya kepada Allah kita berharap, dan hanya kepada-NYA kita mohon ampun.

Ranah yang satu ini dapat dikatakan fleksibel. Tapi dampaknya jangka panjang dan visioner. Adapun yang dimaksud adalah ranah akademik. Ranah akademik memiliki cakupan yang luas, hal ini dapat berupa seperti kemampuan akademis ADK (nilai IPK), kemampuan menulis, kemampuan riset, dan kemampuan menalar. Setiap ADK yang fokus pada ranah ini lebih banyak diberikan kebebasan dalam mengembangkan akademiknya. Misalnya bebas dalam memilih organisasi yang menunjang akademiknya. Peran LDK disini lebih kepada menyiapkan fasilitas berupa pemberian materi (misalnya jurnalistik) dan pembinaan. Terakhir kali saya melihat perkembangan ranah tersebut, dapat dikatakan belum berjalan maksimal. Masih banyak agenda akademik yang belum terlaksana, dalam segi pembinaannya pun belum begitu terorganisir, walaupun dari setiap tahunnya ada kegitaan. Tapi saya merasa yakin terhitung tahun 2015 kedepan, kegiatan akademik ini dapat memberikan kegiatan yang lebih banyak dan berkualitas. Ditambah suasana akademik disetiap perguruan tinggi semakin hari semakin menuntut profesionalitas, beruntunglah bagi kita yang menyiapkan diri.

Pada pembentukan awalnya memang seperti itu, ada tiga ranah yang harus diperankan masing-masing ADK. Namun, pada tahun 2015 ranah ini telah dihapuskan tanpa meninggalkan subtansinya. Artinya, kemampuan tersebut dibaurkan menjadi satu kesatuan, tidak ada lagi pemisahan ranah secara tegas. Ada semacam kurikulum baru yang ingin diterapkan, sejenis 3 in 1, tiga kemampuan dalam setiap ADK. Kemampuan itu diterjemahkan sebagai skill dalam mengelolah ranah kerohanian, umum, dan akademik. Sebenarnya ada sebutan khusus pada masing-masing ranah ini, misalnya kerohanian itu disebut dakwi, umum disebut siyasi, dan akademik disebut ilmi. Sengaja dalam penjelasan awal tidak saya sertakan, mengingat mungkin ada pembaca umum melihat tulisan ini. Dengan artian bahwa tulisan ini sudah disederhanakan. Kemampuan 3 in 1 yang disebut di atas kemudian hari berdampak pada kesanggupan dari ADK itu sendiri. Karena bentuk ideal dari ini semua adalah ADK harus siap dalam segala situasi. Siap dalam mengemban amanah apapun bentuknya, siap dalam menyesuaikan diri dengan kultur organisasi yang berbeda.

Latar belakang pembentukan (katakanlah kurikulum baru) ini, disebabkan oleh masih banyak pengurus yang fokus berpikirnya pada ranah, bukan pada amanah. Misalnya, timbul pertanyaan “Si fulan kan di LDK, kenapa harus keranah umum?” kurang lebih seperti itu. Atau sebaliknya. “Si fulan kan dasarnya Siyasi, kenapa harus ke dakwi (LDK)?”. Walaupun pertanyaan ini tidak menjadi masalah dikemudian waktu, hanya saja ganjalannya terletak pada pola pikir. Pola pikir yang sudah terlanjur terkotak-kotak, sehingga menimbulkan kecemburuan atau kesalahpahaman yang selalu saja terarah pada pengurus yang amanahnya di ranah umum. Timbul ungkapan-ungkapan yang kurang enak didengar, misalnya ungkapan kekecewaan kepada Fulan yang sikapnya terlalu campur dalam interaksi. Maka untuk menghindari ini dibuatlah formula khusus yang mudah-mudahan hasilnya bisa lebih baik.
                         

Disebabkan pembentukannya masih awal, tentu hasil dari formula tersebut belum tampak merata dipermukaan. Masih perlu waktu agar bisa melihat hasilnya, masih perlu evaluasi dalam prosesnya, dan masih perlu tenaga agar setiap programnya berjalan konsisten. Tapi, kalau dilihat secara individu kemampuan 3 in 1 ini sudah dimiliki pada pengurus tertentu. Mungkin kekurangan dari formula tersebut terletak pada kaburnya dalam menentukan prioritas amanah. Sekarang yang lebih penting dari itu semua masing-masing kita harus mengambil peran agar daya tahan LDK semakin maju dan stabil. Mengambil peran tidak perlu dengan tugas yang besar dan terpandang, bisa kerjakan yang kecil dengan hati yang ikhlas, atau sungguh-sungguh dalam menjaga amanah saja sudah cukup. Kalau memang tidak sanggup mengemban amanah, segera mungkin dikomunikasikan, pasti ada solusinya. Mari hindari sikap “air beriak tanda tak dalam”.

salam
Candra Perwira Negara
https://www.facebook.com/uchihanegara?fref=ts


0 Response to "Untukmu yang Masih Memikul Amanah ''Candra''"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel