Semangat Melayani, Bukan Memanfaatkan "Adnan"

Semangat melayani, bukan memanfaatkan.

Hari itu, saya memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa, haha, entah kenapa naik tingkatnya berbeda ya. Dari SD ke SMP, saya tetap siswa. Dari SMP ke SMA, tetap juga disebut siswa. Nah, sekarang ada MAHA, semoga ini bukan bagian dari usaha (mustahil) menandingi tuhan… Haha. Tuhan yang MAHA KUASA, dan kami adalah MAHA SISWA.



Saya melihat di kampus UNP, banyak senior memakai almamater kampus dan berkalungkan kokarde sibuk mondar mandir , ada pula yang sibuk didepan laptop membantu mahasiswa baru meng-entry beberapa data. Diantara mahasiswa baru itu, ada yang didampingi orangtuanya juga, ya.. tapi tetap yang membantu mengisikan data tersebut adalah para senior ini. Maka belajarlah kita dari sini bahwa ada kalanya orang tua kita tidak bisa membantu tapi cintanya membuat mereka harus ikut dan memastikan kita aman dan melalui semua proses dengan baik, hari itu masih ada orang yang peduli dengan urusan kita. Tapi izinkan saya mengajak kita untuk meningat akan datangnya masa dimana kita tidak peduli dengan urusan sesiapapun, hari itu seseorang akan lari dari adik dan kakak kandungnya, dari ayah dan ibunya, dari istri dan anak-anaknya, karena semua orang pada saat itu mengkhawatirkan amalannya. Begitulah Allah menuturkan dalam firmannya di surah Abasa tentang kondisi Yaumul Qiyamah. Sepertinya semangat dalam Pelayanan Mahasiswa Baru ini akan lebih kuat dengan mengingat kondisi Yaumul Qiyamah nanti.

Disisi lain, ada juga senior yang saya anggap mempunyai jiwa entrepreneur yang tinggi, mereka juga sibuk menawarkan jasa printing dan cetak foto. Terlihat juga di stand mereka itu ada beberapa barang dagangan seperti materai, map, pena, dan bahkan beberpa jenis gorengan.
Nama beliau adalah Khairul Fajri, mahasiswa BK UNP angkatan 2010, semoga Allah selalu membimbimbing beliau. Saya menerima beberapa sms dari beliau, menanyakan saya memakai baju dan celana apa untuk selanjutnya ketemuan. Kami membuat janji untuk bertemu atas saran ustadz saya di Perguruan yang berkata bahwa abang ini akan membantu saya bahkan menawarkan tempat tinggal, sehingga hari ini saya bisa melihat terlebih dahulu tempat tinggal yang dimaksud.

Terlintas dibenak saya, senior-senior kampus sangat baik hati untuk meluangkan masa liburannya membantu kami, walaupun saya kemudian mengenali klasifikasi lain dari senior secara lebih luas, mekera ini tidak digaji, tidak ada tuntutan kampus untuk melayani dan membantun mahasiswa baru yang datang ke Padang dari berbagai daerah dan provinsi tetangga, berpeluh, bingung, dan haus. Ya, you know lah, Padang cukup panas walau sebenarnya hatinya adem. Kayak meme yang pernah beredar luas sebelum ini : Nasi Padang = ENAK, Cowok Padang = Baik, lo makan nasi Padang ditemani (secara shah) sama cowok Padang = KELAR HIDUP LO. hehehe. Ya, disitulah tergerak hati ingin bertanya, kenapa mereka rela dan bersedia menyisakan waktunya secara khusus untuk melayaki kami yang kebingungan, kepanasan dan kehausan ?, suatu yang begitu berkesan di relung hari, kala bingung, panas dan haus, ada seorang senior dengan penampilan menyejukkan memberikan bantuan dengan ramah.

Meskipun telah 3 tahun menetap di kota Padang, saya hanya berputar disekitaran sekolah saya saja, lebih tepatnya diperguruan kami saja, disebuah kaki bukit di pinggir kota Padang, jadi seluk beluk kampus kontan saya tidak familiar sama sekali. Akhirnya, bang Fajri dan saya berhasil saling mengenali, tepatnya saya yang duluan mengenali beliau hehe, karena keywordnya  sangat jelas, di sms itu  “Abang pake sepatu kulit Coklat Muda”, jadi saya mulai proses pencarian disekitaran lokasi stand PMB dengan men-scan warna sepatu setiap senior ber-almamater. Sedikit perkenalan, karena urusan registrasi ulang saya alhamdulullah telah selesai lalu beliau ajak ke kontrakan beliau yang rencananya akan saya tempati juga.

Setiba di kontrakan, sebelum saya dipersilahkan duduk, beberapa senior yang baru selesai makan siang menyambut saya, saya melangkahkan kaki pertama ke dalam rumah, dan abang-abang itu berdiri menjawab salam saya dan menyambut jabat tangan saya dengan hangat. Serasa ada pesan yang ia sampaikan dalam dekap jabat tangan mereka, yakni bang Yoga, bang Fauzan dan Mas Indra, seakan-akan saya pernah bertemu dengan mereka dan saya barusaja pulang dari perjalanan jauh. BAPER? Mungkin iya, tapi saya merasakannya. Nyata. Selanjutnya waktu mengalir seiring perkenalan kami, dan penjelasan beliau-beliau tentang kontrakan ini, disini ada aturan yang dibuat murni untuk kebaikan pribadi dan bersama, ada anjuran, larangan dan kewajiban yang tidak dibuat oleh penghuni kontrakan biasa. Bagi saya, aturannya sudah sangat familiar, kan saya jebolan pondok hehe, tapi saya sedikit heran bahwa mahasiswa kampus umum ternyata punya kesadaran untuk membuat aturan yang mirip dengan aturan asrama kami dulu. Seputar kewajiban shalat berjamaah di masjid, baca Qur’an, puasa Sunnah, ikut kajian rutin, targetan membaca buku, sampai masalah kecil seperti minum berdiri, makan sambil bicara, hatta masalah pakaian basahan dikamar mandi semua ada dibahas disini.

Jika seandaninya, apa-apa yang saya pelajari selama tinggal dikotrakan itu Allah terima sebagai amal baik, semoga sang maha Rahman juga mengalirkan fee buat bang Fajri sepanjang kami mengamalkan apa yang kami pelajari di kontrakan itu. Kontrakan (semacam) itu yang kami, di Sumatera Barat, menyebutnya ‘wisma’.


Pihak mana saja yang memiliki niat baik, apalagi LDK, harus tampil untuk berkhidmad.. ya berkhidmat, sekali lagi berkhidma dengan sega maknanya, melayani ummat (baca : Mahasiswa Baru) tanpa pamrih dari manusia. Biasanya ini disebut amal khidami, kegiatan pengabdian. Dalam mengahadapi PMB ini, para aktivis kampus harus memperhatikan niatnya, saat melangkah ke kamar mandi di pagi hari sebelum pergi ke kampus sebagai panitia Pelayanan mahasiswa baru, niat yang terpasang hendaklah hanya satu, yakni melayani mahasiswa baru hanya karena Allah.

Untuk pengalaman pertama, barangkali sebagian besar kita akan banyak butuh waktu untuk bisa benar-benar terjun melayani mahasiswa baru hanya karena Allah. Ada terbersit dalam hati keinginan untuk dikenal, keinginan untuk mencari keuntungan materi, keinginan untuk mendapat gebetan baru nauzubillah. Bahkan, keinginan untuk memperanyak anggota wisma dan kader LDK juga perlu kita periksa kembali. Dan perlu diperhatikan bahwa kader LDK bukan orang-orang yang menjadi pengurus LDK saya, mereka adalah mahasiswa yang ditempa kepribadiannya di LDK dan seluruh instrumennya (wisma, kajian rutin, agenda pekanan dan bulanan, bacaan wajib dan seterusnya) dan siap melayani mahaiswa dilembaga mana saja, seperti lembaha eksekutif dan legislatif mahasiswa, lembaga keilmuan dan jurusan, lembaga minat dan kegemaran dan sampai lembaga eksternal sekalipun sepeti LSM dan komunitas.

Keinginan untuk mencari calon anggota wisma dan LDK adalah sebuah niat yang mulia, dengan catatan bahwa kita sadar kenapa mereka harus diusahakan untuk bersedia menjadi anggota wisma dan anggota LDK. Posisi sebagai mahasiswa baru,  bagi mereka, adalah sebuah masa yang sangat penting namun seringkali telat untuk menyadarinya. Masa dimana mereka akan menemukan teman baru, lingkungan baru dan kebiasaan yang baru. Masa seperti ini adalah masa yang sangat berharga untuk melakukan sebuah transformasi, untuk sebuah perubahan atau yang popular disebut dengan “hijrah”.
Hari ini semakin umum terdengar, saat saudari muslimah kita bilang “sebelum masa hijrah saya dulu….” Atau “ketika saya belum hijrah, saya bla bla bla….”.

Masa hijrah dalam konteks ini memang didasarkan kepada masa hijrahnya Rasulullah, dari kehidupan yang tidak kondusif untuk mendekatkan diri kepada sang  pencipta, kepada kondisi yang lebih baik dalam hampir segala aspek. Betapa banyaknya kita melihat saudara kita memulai kebiasaan barunya setelah beberapa minggu menjadi mahasiswa baru, mereka memulai kebiasaan rutin shalat berjamaah di masjid, memulai kebiasaan membaca Al Qur’an setiap hari, memulai bertutur lebih halus, berfikir lebih jauh dan bergaul lebih rapi. Begitu juga, terlihat jelas para saudari kita yang semakin hari semakin sesuai caranya menutup aurat dengan ajaran Rasulullah SAW, meninggalkan celana jeans ketat, meninggalkan kaos yang ngepas, menuju rok longgar, dan jilbab terjulur lembut menutupi sebagian badan. Mereka memperkenalkan dirinya kepada teman dan lingkungan baru sebagai seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Meski grafik perbaikan diri setelah hijrah tetap fluktuatif, titik akhir insyaAllah sudah jauh diatas titip awalnya.

Saat seorang aktifis mahasiswa berhasil mengajak mahasiswa baru untuk memulai transformasi diri, sesungguhnya ia sedang berinfestasi kepada Allah melalui adik baru itu, sehingga bukan tidak mungkin dalam setiap ayat bahkan huruf yang kemudian dibaca oleh si-adik maba dari Al Qur’an, ada fee, ada tip dari Allah atas usahanya dahulu mengenalkan si adik maba kepada jalan hidup yang lebih baik. Dimanakah didunia ini ada pekerjaan yang pelanggannya memberikan tip terus menerus kepada kita sebagai penjual, walau kita hanya melayani kebutuhannya sekali saja? Inilah amal jariyah, dan inlah satu baian kecil dari kegiatan, yang popular disebut dengan, da’wah kampus.

Amanah itu mendewasakan, bukan menyusahkan.
Kita menyebutnya amanah, bukan jabatan. Sebab, kata jabatan sudah terlajur dilabel sebagai kata yang mewakili posisi bergaji dan berkekuatan tertentu. “orang berjabatan tinggi” misalnya. Tapi lebih dari itu, kenapa kita menggunakan istilah amanah adalah untuk menekankan bahwa dipercaya mengurusi suatu urusan adalah sebuah kepercayaan dan dengan tegas Allah menyebutnya dalam Al Qur’an :

Saat itu terik mentari semakin menyurut tanpa memalingkan mukanya kepada kota Padang, teriknya sudah lembut tapi cahanyanya masih berlimpah ruah memantul dijalanan dan membias ke ruang musyaearah besar (MUBES) saat itu. pimpinan sidang mubes menyeka peluh di keningnya, masuklah kami ke sesi terakhir yakni pemilihan pengurus UKK UNP (Unit Kegiatan Kerohanian)
Fenomena mencari keuntungan
Mengawali niat untuk PMB
Ingat pahala kebaikan akan selalu mengalir




Cerita proses bersentuhan dengan DK : gambaran rektutmen, kondisi DK saat itu
Wisma, sejuta cerita : ukhuwah, suka duka,
Bagaimana DK mewarnai pribadi kami, di kampus, di kampung, dan pasca kampus ini
Mengingat kata-kata yang menyentuh relung jiwa kami
Wisuda, berkah dakwah memberikan proses dan hasil wisuda yang berbeda.
Gaya kami untuk berbaur, Usaha kami untuk tidak Melebur. Dahulu, kini dan Nanti
“Ana dan Kawan beda organisasi “






Salam
Adnan Arafani (Al-Haramain)
https://www.facebook.com/adnan.arafani?fref=ts

0 Response to "Semangat Melayani, Bukan Memanfaatkan "Adnan""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel