Saudara Sampai Syurga

Saudara Sampai Syurga - “Semoga kita tetap menjadi teman, sahabat, dan saudara yang selalu setia dalam satu rangkaian mutiara doa.”



Masih teringat olehku ketika itu, di suatu hari yang bukan merupakan kebetulan, melainkan telah Allah gariskan untuk kita bertemu. Pada waktu itu, raut wajah kita satu sama lain masih terlihat canggung dan kaku, mungkin pada suasana baru, dimana diri harus merantau jauh menuntut ilmu. Di tengah sepi pada tanah rantau, kamu menyunggingkan senyum ramah dan kemudian menyapaku.

Hari itu aku bersyukur menemukan keluarga baru, seiman, senasib serta seperjuangan yang membuat hati mengharu biru. Semakin lama berkawan, ternyata kamu tak hanya sekedar teman, namun jua merupakan saudaraku.

Suka, duka, tawa, dan air mata telah kita lewati bersama-sama, tak terasa waktu berlalu melewati perjalanan panjang dan lika-liku kehidupan pada hari-hari kita yang awalnya sempat merasa sendiri dan terasing di perantauan nan jauh dari keluarga.

Saudaraku, tahukan kamu bahwasanya persaudaraan kadang seperti tingkah dahan-dahan yang ditiup angin. Walau satu pohon, tak selamanya gerak dahan seiring dan sejalan. Adakalanya seirama, tapi tak jarang berbenturan. Tergantung mana yang lebih kuat, keserasian batang dahan atau tiupan angin yang tak beraturan? Namun percayalah, persaudaraan yang diikat oleh laa ilaaha illallah itu kuat dan dekat. InsyaAllah, seperti itulah persaudaraan kita, tak sekedar lalu, kini, namun juga masa depan yang kita nanti dan perjuangkan.

Aku pun merasakan apa yang kamu rasa, dimana pada detik-detik ini setiap kita memperjuangkan amanah orang tua dan keluarga untuk menyelesaikan studi dengan segera. Setelah menempuh ribuan tangis dan tawa, aku pun tersadar kini telah tiba masa di penghujung waktu wisuda. Siap tak siap aku dan kamu harus melaluinya.

Terlintas memori pertemuan denganmu, mengisi waktu bersama, saling tolong menolong dan menguatkan dalam nyata. Hati ini terasa sesak mengingat semua, waktu terus berlalu dan perpisahan sejenak pasti akan tiba, dimana setelahnya kita akan bergerak masing-masing dan memperjuangkan cita-cita serta impian kita.

Namun, sekuat apa pun kamu dan aku ingin pergi, seberani apa pun kamu dan aku memutuskan untuk meninggalkan, perpisahan adalah hal yang cukup menakutkan. Kamu dan aku harus mengepak setiap rinci cerita, debar, air mata dan tawa, serta kemudian mengemasnya agar tak tertinggal lalu tanggal. Setelahnya, merupakan perjuangan untuk tak terluka ketika semuanya luruh dalam langkah kaki yang mulai menjauh namun hati dan do’a kita semoga tetap terjaga utuh.

Saudaraku, mungkin kelak kita tak dapat sebebas masa kini dalam bertatap muka dan berkisah. Entah setelah ini dimana jajak kakiku dan kakimu akan berpijak, tapi ingatlah selalu bahwa kamu merupakan salah satu hal yang mengajarkanku bijak.

Hahaha, sudah jangan menangis dan cengeng seperti itu. Ini hanya masalah jarak dan aktifitas dunia, kamu percaya kan akan kuasanya yang senantiasa menghubungkan hati-hati kita dalam rabithah cintaNya. Ya, suatu hari nanti insyaAllah kita akan bertemu kembali, tak hanya aku dan kamu, tapi keluarga besar kita, bertambah keluarga baru dengan kehadiran istri serta anak-anak. Maka, bersiaplah kita lanjutkan cerita sejarah kita. Jadikan kita sebaik-baik pribadi yang gemar belajar, agar suatu hari nanti dengan izinnya, tak hanya kisah persaudaraan kita yang patut dibanggakan dan diceritakan kepada mereka, tapi juga sosokmu dan sosokku yang mereka kembali ceritakan, bahwa dirimu dan diriku telah berhasil membahagiakan orang tua, keluarga, dan menjadi suami serta ayah yang mereka banggakan dan jadikan tauladan.

Yakinlah, perpisahan ini hanya sementara. InsyaAllah di kemudian hari kita akan kembali bersua dan bertukar cerita, mengenang hal-hal lucu hingga sedih yang akan membuat mata kita memerah dan menangis mengeluarkan air mata namun bahagia, bahwa kita telah berhasil melewati masa-masa muda yang indah, di temani pemuda-pemuda canggih kiriman Allah yang patut aku syukuri keberadaannya.

Terima kasih saudaraku untuk segala yang telah engkau beri dan bagi meski kita pun sama-sama kekurangan, namun keberadaan kita saling peduli menjadikannya kelebihan, maka nikmat Allah manakah yang aku dustakan?

Mari setelah wisuda, bekerja, dan kelak berkeluarga. Jangan putus belajar dan mengajar yang menjadi bagian sendi kehidupan kita. Akan ku nanti dirimu di masa depan dengan kesuksesan kita di bidang masing-masing, suatu saat nanti aku akan tersenyum dan berkata dengan penuh haru berbalut bangga di depan masa depanku, “Perkenalkan, ini saudara yang temukan di masa perkuliahan dulu. Saat ini tambah hebat dan berkualitas, sebab dia saudaraku karena Allah, bukan kacang yang lupa akan kulitnya, hehehe.”

Selamat berjuang saudaraku, semangat selalu memperjuangkan cita-cita dan impian kita, ketika rindu menyapa bawalah aku selalu dalam do’amu, begitupun semisalnya aku. Bersama kita hadapi tantangan untuk menjemput kesuksesan tak sekedar dunia, namun ingin pula ku genggam persaudaraan kita hingga jannahnya. Aamiin.

“Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, terangilah dengan cahayaMu yang tiada pernah padam, Ya Rabbi bimbinglah kami.”

Ana uhibbuka fillah hatta fil jannah abadan abada, ya akhi. Lillah insyaAllah. Jazakumullah khairan katsiran, ya akhi.

Salam dariku, saudaramu
Ichsan Nasution

0 Response to "Saudara Sampai Syurga"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel