Salam Cinta Ayah

Salam Cinta Ayah - Nak, kali ini ayah datang menemuimu di pertemuan rutin kita dengan bentuk yang berbeda. Cukup kali ini ayah datang menemuimu dengan sepucuk surat.
Semoga dengan surat yang kau baca ini, pesan ayah akan kuat membekas padamu.

Nak, selama ini ayah telah mendidikmu untuk selalu menjadi anak yang unggul dalam setiap persaingan. Ayah juga mengajarkanmu untuk dapat membaca peluang pada setiap kesempatan. Menjadi anak yang tegas, cermat, dan tepat dalam setiap tindakan. Ayah pun mengajarkanmu untuk selalu berusaha keras, berikhtiar baja, dan bertekad kuat.



Tak lupa, ayah memintamu untuk selalu berdoa. Agar usahamu di dunia terhubung dengan kehidupan akhiratmu. Nak, ayah masih ingat, pada diskusi kita malam itu, kau begitu begitu bersemangat dengan rencana-rencana masa depanmu. Ayah larut dalam pemaparanmu. Seakan-akan, ayah berada dalam rangkaian perjalanan yang hendak kamu tempuh.

Meskipun mungkin nanti ayah tidak selalu berada di sampingmu, setidaknya malam itu ayah tahu bahwa engkau adalah anak yang gigih dalam mencapai impian. Ayah telah melihat engkau sebagai seorang yang gigih berjuang dan khusyuk dalam berdoa. Mungkin dua hal itu yang membuatmu menjadi hebat dibanding anak-anak lainnya.

Namun nak, kali ini, izinkan ayah menyampaikan satu pelajaran lagi yang harus kamu terus latih dan biasakan. Dengan satu pelajaran ini, engkau akan menjadi manusia yang ikhlas dan tidak mudah goyah dalam mewujudkan impianmu.

Pelajaran itu adalah, “Latihlah hatimu untuk menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapanmu.”

Sebelumnya, ayah akan memceritakan padamu tentang sikap indah yang dimiliki oleh sahabat nabi ketika berdoa. Dalam doa, dia selalu siap dengan dua kemungkinan: Diijabah dan tidak diijabah.

Jika yang terjadi kemungkinan pertama, dia akan merasa bahagia, karena harapannya telah menjadi kenyataan.

Namun jika yang terjadi kemungkinan kedua, dia akan merasa lebih bahagia berkali-kali lipat. Karena kenyataan yang dia terima adalah pilihan Rabbnya, bukan pilihannya.

Nak, engkau kini telah berubah dari seorang mahasiswa, menjadi seorang sarjana, menjadi seorang suami/istri, dan akan menjadi orang tua, serta selanjutnya pun akan menua.

Engkau telah meninggalkan kolam dan berenang menuju lautan. Kehidupanmu yang sebelumnya serba terukur akan kamu tinggalkan. Dan setelah ini, engkau akan seringkali bertemu dengan ombak ketidakpastian. Akan banyak arus yang tidak sesuai dengan harapanmu yang mungkin saja mengecewakanmu.

Namun dengan hati yang terlatih dengan ketidaksuaian harapan, engkau akan lebih dewasa dan bijak nak. Engkau akan lebih ikhlas menerima dan siap lebih cepat untuk mengambil keputusan yang lebih besar.

Salam cinta,
Ayah

0 Response to "Salam Cinta Ayah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel