RASANYA MELAHIRKAN ITU.. NANO..NANO..

Abuya dan Alifa (Part 1)

Alifa Hibatillah Nasution, anak pertama kami yang lahir pada tanggal 8 Oktober 2016, pukul 12.45 WIB.

Banyak handai taulan yang bertanya, "Lahiran kok enggak ngabar-ngabarin sih nita?", "Gimana rasanya ngelahin, sakit enggak?", "Berapa jahitan, keringnya berapa hari?", "Biaya lahirannya mahal ya, berapa sekarang?", dan lain sebagainya.

Mengenai lahiran enggak ngabar-ngabarin, ummi dan abuya alifa pun tidak terpikirkan untuk lahiran tertanggal itu, sebab hari perkiraan lahir yang di berikan dokter masih cukup lama yakni kurang lebih seminggu lagi. Dan... pada hari itu abuya alifa pun akan bersiap berangkat studi masternya seperti biasa di akhir pekan, yakni pukul 9.00 WIB. Setelah masak dan akan menemani abuya alifa sarapan, tiba-tiba perut seperti kencang dan ingin bab, maka bersegeralah ke kamar mandi, tapi nihil ternyata tidak keluar. Setelah itu, perut terasa semakin sering kencang dan mulas. Tapi karena mendengar cerita teman-teman yang mengatakan, "kalau mau melahirkan sih bukaan pertama aja udah sakit." Maka, karena tidak terlalu sakit, aku tidak berpikir kalau itu tanda melahirkan. Abuya alifa pun mulai bingung dan berpikir untuk membawa ke bidan dekat rumah dulu sebelum ke rumah sakit. Setibanya di bidan dekat rumah dan cek pembukaan, bidan pun tercengang, "pak ichsan, ini istrinya sudah mau lahiran, sudah bukaan 7 menuju bukaan 8. Langsung saja ke rumah sakit yang dituju pak, prediksi kami paling lambat habis dzuhur pun sudah lahiran."

Eits... jangan dikira kami panik dan heboh, menuju rumah sakit pun abuya alifa dan aku masih mengendarai motor berdua, dengan lokasi antara bidan dan rumah sakit yang bisa di bilang tidak macet namun tidak pula dekat. Sampai di rumah sakit jam menunjukan pukul 10.15 WIB, maka di cek pembukaan lagi, yap sudah pembukaan 8 lebih sedikit menuju 9. Maka usai mengenakan pakaian ala seragam lahiran khas ibu-ibu, aku pun di baringkan di ruang bersalin. Dan... ternyata aku belum sarapan hari itu, hanya menemani abuya alifa saja pagi tadi, karena nafsu makan sudah tidak ada, tanpa sempat berfikir akan bersalin hari itu juga. Abuya alifa membelikan bubur ayam dan sate hati, juga teh manis hangat. Namun jangan tanya habis atau enggak, saat abuya alifa kembali ke ruangan sudah bukaan 9, dan rasanya sudah mulai bergemilangan, historia bahkan wahana horor di pusat permainan ibu kota itu pun kalah tenar, rasanya nano-nano, tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata, maka rasakan sensasinya sendiri-sendiri

Abuya dan Alifa (Part 2)

Tak lama terdengar suara tangisan pecah, usai alifa di bersihkan dan diazani abuyanya, saya pun masih harus berjuang menerima jahitan tanpa biusan, ini tak kalah fenomenalnya.

Namun dari sekian banyak prosesnya, saya banyak sekali bersyukur tetap banyak sekali nikmat karunianya, bahkan hingga kami bersiap pulang kerumah, hari ini dan seterusnya. Ya... dari segala segi, tak luput pula moril dan materiil. Sederhana, namun indah, berkah, dan alhamdulillah di mudahkan.

Hal medis yang di tilik dari sisi kehidupan dan kuasa allah menjadi satu. Senantiasa ada hal istimewa di balik persalinan. Saya percaya bagian hidup kita ibarat tali temali yang berkesinambungan dan menjadikannya kokoh dan bermanfaat. Kita sebagai manusia yang lemah dan tiada daya dan upaya kecuali dengan kehendak allah, tak jauh dan tak ahyal selain tindakan yang positif dan ibadah yang menjadi penguat.

Saya percaya di balik keberhasilan persalinan istri pun ada suami  dalam segala sisinya. Abuya alifa yang membaur pada lingkup positif baik di kantor, rumah, dan lingkup sosial lainnya. Abuya alifa yang senantiasa di nanti handai taulannya di masjid dan majelis kantor, juga lingkup rumah dan masyarakat, dan terus aktif dalam kegiatan sosial baik saat lapang maupun sempit.

Ya, dibalik kesuksesan itu ada lelaki yang setiap sujud dan do'anya memanjatkan permintaan yang sungguh sambil menitikkan airmata kepada Allah untuk keselamatan anak istrinya. Di sebalik itu ada pemimpin rumah tangga yang diam-diam bersedekah atas nama istri dan anaknya. Pada latar belakang itu ada imam yang gemar bersosial membantu sesama dalam lapang dan sempitnya.

Hari itu, tak lama pecah tangis bayi saat persalinan itu, tersungkurlah ia bersyukur dalam sujud yang tak pernah dilupakannya seirama airmatanya mengambang di mata yang teduh, ya terkabulnya permintaan itu karena Allah. Terima kasih Allah.

#Dedikasi Tuk Abuya Alifa
#Orang Tua #Mertua #Keluarga Besar Tercinta

Akd/Ich

3 Responses to "RASANYA MELAHIRKAN ITU.. NANO..NANO.."

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel