Para Penebar Cinta ''Eka"

Ada Banyak Cinta di Pusaran UKK UNP ''Eka"


Disinilah Mereka

Terhitung beberapa tahun silam sampai detik dimana aku masih menghembuskan nafas bahagia belum ada yang menyadarkanku bahwa mereka ini adalah orang yang tak layak kupertemani. Aku juga tak berharap akan tersadar dalam lamunan indah bersama orang – orang yang dengannya aku jatuh cinta. Cinta ini mungkin tak ternilai harganya akan tetapi rasanya jauh lebih nikmat saat dia menyentuh relung terdalam di sebuah gumpalan darah yang kita sebut dengan Hati.


Tak banyak memang yang suka dengan mereka namun tak sedikit yang bahagia karena ulah mereka, kadangkala ia menjadi perantara agar saudaranya mendapat hidayah dari Tuhannya. Inilah Cinta saat dimana orang membelakanginya namun dia berlari mendekat dan menatap serta mendekap agar bersama – sama mendekat dengan Rabbnya. Aduh jujur aku pernah merinding dan diam tak bergeming ketika kudengar dan kubaca perjuangan sebahagian dari mereka yang tak tahu makna kata lelah untuk tetap menjadi cahaya diantara gelapnya dunia disekitar mereka.

Tidakkah mereka butuh cinta?, ya! Mereka hanya butuh cinta yang haqiqi dari Sang Pencipta raganya. Ketika dia menebar kebaikan penuh cinta saat itulah mereka bahagia, merasa kalau Tuhannya sedang tersenyum memperhatikannya. Ya begitulah sebahagian besar dari mereka yang sering menangis saat diberi amanah namun tetap menangis saat menyelesaikannya. Mereka menangis bukanlah malas mengemban amanah tapi takut tak sanggup mempertanggungjawabkannya di depan sang MahaAdil, mereka menangis bukanlah sedih melepaskan amanah tapi terngiang dibenaknya betapa perih perjuangan untuk menyelsaikannya.

Mereka bukanlah Malaikat, namun mereka bisa saja lebih baik dari para Malaikat. Ketika para malaikat senantiasa beribadah kepda Allah, mereka malah menambah daftar pekerjaannya untuk menyeru saudaranya kepada jalan Allah dan mereka sebut itu berdakwah. Mereka sadar akan kelemahan dan kefaqiran ilmunya, maka dari itu mereka rutin membina diri bersama orang – orang yang menurut mereka jauh lebih baik darinya. Mereka membina diri di dalam sebuah kegiatan yang disebut halaqah. Dan saya seringkali menamainya halaqah Cinta.

Ya Allah sungguh indahnya sikap mereka. Saya tidaklah mengatakan mereka yang terbaik namun saya berani mengatakan mereka orang – orang yang selalu ingin menjadi lebih baik dan mau berbuat baik tanpa iming – iming apapun. Karena saya yakin kebaikan yang mereka lakukan atas dasar Cinta Karena Allah. Inilah yang mungkin pernah membuat saya terperangah dan mata sempat berkaca – kaca karena saya pun pernah mendapatkan seberkas cinta yang tulus dari mereka.

Ucapan mereka itu sarat akan makna, mereka sangat pandai dalam berkata, lisan mereka sangat terjaga. Mereka tahu setiap perkataan adalah doa, setiap makna adalah ilmu, dan ilmulah yang membuat mereka berani berkata. Betapa berharga ilmu bagi iman mereka. Ialah asasnya. Ialah penopangnya. Dan pengikat bagi semua kebaikan.

Mereka tidaklah sembarang berkata, mereka belajar dari sejarah, karena dengan itulah mereka akan paham jalan mana yang akan dia tapaki bersama para saudaranya. Mereka tak pernah bertemu dengan Rasulullah tapi cintanya kepada sang Rasul tidak terbatas oleh waktu. Dan itu salah satu cinta yang dia idamkan agar dapat melihat sosok yang penuh kasih kepada semua makhluk.
Muhasabah adalah cara mereka merperbaiki diri, ibadah adalah hal yang akan mendekatkan mereka dengan Rabbnya.

Mereka itu bagaikan seutas tali yang tak mau diputuskan namun ada banyak hal yang akan memutuskan tali itu. Mereka sangat menjaga silaturrahim dengan saudaranya. Sesama mereka sangatlah erat dan itulah yang mereka sebut dengan kata ukhuwah. Bagi mereka nilai Ukhuwah itu seumpama semua angka dibagi nol maka hasilnya tak akan berhingga.

Mereka menghibur dikala gundah, mengirim senyum dikala sedih, meracik obat dikala rindu melanda, merawat dikala sakit, menghargai disetiap perjuangan, memberi nilai dikala kosong. Hebatnya mereka bertahan ketika yang lain berguguran. Baiknya mereka menahan ketika yang lain melepas. Mereka selalu menuntun penuh dengan santun.

Temanku, pasti kamu mulai bertanya siapa sebenarnya mereka. Dimana mereka. Kenapa mereka bisa seperti itu. Apa tujuan mereka dan bagaimana paras mereka dan sejumlah pertanyaan lain ingin kau lontarkan agar tak ada lagi keraguan untuk bersama mereka.
Simaklah sekelumit cerita singkat ini, terkisah tentang seorang pemuda yang haus akan makna kehidupan. Dia itu adalah aku. Disinilah ku menemukan mereka. Dimana cerita perjuangan masa lalu terasa nyata disetiap lekuk hari – hariku. Disinilah mereka.

Aku belum lupa saat minggu – minggu pertamaku dikampus pendidikan ini kampus yang melahirkan calon pendidik yang hebat. Inilah kampusku Universitas Negeri Padang. Saya merasa bangga bisa menadi keluarga besar di kampus ini, mungkin kampus ini bukanlah yang terbaik di tanah kelahiranku sumatera barat tapi di kampus ini akhirnya aku menemukan orang – orang hebat itu, biasanya aku sebut mereka orang – orang Keren.

Saat itu aku sudah di doktrin oleh beberapa senior agar bergabung di organisasi mahasiswa agar kita semakin berkembang dan bisa menemukan passion kita sebagai mahasiswa. Katanya “jika kamu tidak berorganisasi berarti kamu tidaklah berbeda dengan siswa di sekolahan yang kerjanya hanya belajar lalu pulang dan bermain”. Inilah kalimat menarik buat saya untuk mencoba bergabung di organsasi mahasiswa yang di kampus ini.

Masa itu memang maraknya organisasi mahasiswa yang ada dikampus untuk merekrut mahasiswa baru bergabung dengan organisasi mereka guna melanjutkan estafet perjuangan mereka selama ini. Informasi perekrutan itu sangat gampang ditemukan. Hampir setiap mading yang ada berisikan informasi Open Recruitment lengkap dengan segala prasyarat dan info singkat mengenai organisasi tersebut.

Setiap melirik ke mading itu saya selalu terngiang dengan kata – kata seniorku itu. Kata – kata itu seolah menghantuiku, dibenakku muncul “bergabunglah, bergabunglah, bergabunglah” terkesan horor yah. Tidak seperti itu juga kok. Saya sih memang tipe orang yang ingin punya banyak teman, dalam pikiran saya mungkin dengan berorganisasi ini baklalan dapat banyak teman juga, pada akhirnya emang iya.

Lalu ada hal yang menarik, hampir setiap organisasi mencamtumkan salah satu syarat ini yakni insert atau uang pendaftaran kecuali satu organisasi. Organisaisi bernama Unit Kegiatan Kerohanian UNP ( UKK UNP). Dan singkat cerita saya akhirnya mencoba bergabung dengan UKK ini. Jangan ditertawakan kalau saya bergabung dengan UKK karena bebas uang pendaftaran, harap dimaklumi saja. Sebenarnya memang iya salah satu alasan bergabung dengan UKK adalah free insert.hehe. Itu salah satu aja alasannya.

Alasan lain sebenarnya saya cukup tertarik mengenai organisasinya yang membawa nama islam. Kenapa memangnya dengan Islam?, ngga ada apa – apa dengan Islamnya, hanya saja saya merasa butuh ketika itu karena kampus ini bukanlah kampus Islam, jadi singkatnya mungkin dengan organisasi ini saya bisa belajar islam juga. Walaupun dulunya saya tidak sekolah di madrasah atau pesantren tapi sekaranglah mungkin waktu yang tepat.

Lupakan masalah di atas, back to the topic. Akhirnya saya kunjungi sekretariat UKKnya, sebenarnya saya berdua dengan teman kosan ke sana, tapi lupakan dia fokus kepada saya. Sampai di sana saya sampaikanlah maksud dan tujuan saya ke sana(terlalu dramatis). Tak disangka abang yang melayani itu satu kampung pula dengan saya, hm memang dunia ini tak selebar daun kelor tapi sesempit daun keladi.

Singkat cerita, maaf mungkin banyak cerita yang dipersingkat, ini menimbang serta mengkaji ingatan saya yang juga sudah mulai memasuki waktu susah. Jadi akhirnya saya mengisi formulirnya dan mengikuti seluruh tahap – tahap menjadi anggota barunya. Luar biasa serunya, apalagi saat kami diajak tadabbur alam yaitu mendaki gunung padang. Start dari jembatan siti nurbaya hingga destinasi terakhir pelabuhan teluk bayur. Yang satu ini saya masih ingat, hari itu sangat melelahkan serta membahagiakan buat saya dan teman – teman baru itu.

Ya itulah awal saya bergabung dengan UKK UNP yang biasa disebut dengan LDK (lembaga Dakwah Kampus). Dan orang – orang yang mengusungnya disebut ADK (Aktivis Dakwah Kampus). Banyak hal juga yang tidak saya lupakan awal – awal mengikuti kegiatan LDK ini. Mereka setiap memulai agenda selalu diawali dengan pembacaan alqur’an, biasanya posisi duduk antara perempuan dan laki – laki dipisah. Dan yang paling penting adalah ketika azan berkumandang mereka akan segera menghentikan aktifitasnya dan menyambut seruan azan untuk segera sholat.

Mereka itu selalu bicara yang baik – baik dan saya suka itu maklumlah yah saya juga dari keluarga baik – baik. Ketika berjumpa salaman dengan hangatnya dan bertegur dengan indahnya aduh membuat saya semakin cinta organisasi ini. Dan masih banyak momen so sweet yang saya alami di sini.

Ada satu lagi hal menarik yang satu ini juga agak susah saya praktekkan yaitu menjaga hijab dengan lawan jenis atau non mahram. Alamak, ini susah sekali awalnya bagi saya. Saya kan alumni SMA yang waktu itu satu kelas antara cewek dan cowok rasionya 3 : 1. Apalagi sampai tamat sekolahanpun saya masih akrab dengan teman – teman perempuan. Awalnya saya akui sangat susah bagi saya untuk tidak bersalaman, memandang, bercerita lepas dengan teman perempuan. Tapi saya sadar dengan ilmu yang mereka berikan membuat saya mulai paham bahwa yang seperti itu memang dilarang oleh agama.

Akhirnya lambat laun saya mulai terbiasa untuk tidak bersalaman dengan non mahram. Ditambah lagi faktor pendukungnya yaitu di jurusan temapt saya kuliah jumlah perempuannya sangat minim sekali. Ya maklum sih saya anak teknik dan kata teman – teman di jurusan kami itu terasa sangat gersang, uuuaalaah.

Pada akhirnya saat menginjak usia satu tahun saya bersama para ADK ini saya sudah memahami banyak hal. Tapi ilmu saya mengenai Islam tetaplah sangat kurang. Untuk itu mereka memfasilitasi kita untuk menambah ilmu dengan berbagai macam acara rutin salah satunya dengan halaqah tadi.
Di halaqah ini saya seperti mendapatkan keluarga baru. Tertawa gembira serta sedihpun tetap saling menguatkan. Saya sempat berfikir apakah ada di tempat lain akan kudapatkan hal semacam ini?. Ternyata tidak. Karena saya juga sempat mengikuti beberpa organisasi lainnya di kampus.
Sampai sekarang ikatan kekeluargaan ini semakin hari semakin kuat dan inilah yang dinamakan ukhuwah. Ukhuwah tidaklah memandang siapa dan darimana anda. Ukhuwah menempatkan hati seseorang pada suatu titik dimana kepedulian adalah hal utama yang harus ada dalam suatu hubungan silaturrahim.

Kenapa sih hubungan itu sebegitu kuatnya diantara mereka?. Pertama adalah karena cinta, ya Cinta karena Allah. Disaat seorang insan  mencintai saudaranya karena Allah maka segala sesuatu akan terasa indah. Saya pernah membaca beberapa kisah seperti kisah suami istri, antara  dua orang sahabat  bahkan orangtua dan anak. Kisah tersebut menceritakan tentang bagaimana efek dari mencintai seseorang karena Allah. Dan dua orang yang saling mencintai karena Allah ini juga merupakan satu dari 10 golongan yang mendapat naungan di sisi Allah nantinya. Tidak terbayangkan jika kita mencintai saudara kita karena Allah bisa jadi di akhirat kelak kita dipertemukan lagi. Aamiin.

Saya mungkin tidak bisa menyebutkan di sini semua saudara – saudara saya di kampus UNP yang saya cintai karena Allah. Tapi ketahuilah saya mencintai seluruh ADK dimanapun ia berada terkhusus sahabat seperjuangan saya ADK UNP 2010. Saya banyak belajar nilai kehidupan dari mereka.
Lalu apa hebatnya sih menjadi seorang ADK?. Mungkin teman – teman saya punya cerita yang jauh lebih menarik, tapi saya tentu juga punya pengalaman yang bagi saya cukup menarik dan ini semua adalah dampak menjadi seorang ADK.

ADK itu tersebar di seluruh kampus yang ada di Indonesia. Karena status ADK ini menjadi suatu kebanggaan saat kita berjumpa dengan ADK lainnya di pelosok Nusantara. Waktu itu tahun 2012 diadakan sebuah agenda besar di kampus tersohor di Indonesia yakni ITB. Acara ini diadakan dalam rangka kegiatan FSLDKN yang ke XVI dinamakan IMSS (International Moeslem Student Summit) lebih simpelnya perkumpulan ADK dari seluruh kampus di Indonesia. Waktu itu saya turut serta menjadi perwakilan ADK UNP ke ITB, lumayanlah sekalian lihat kampus ITBnya.

Ketika di ITB di hadiri lebih kurang 2000 an ADK, seluruh ADK dikumpulkan disebuah gedung. masyaAllah ramainya, saya sempat merinding ketika salah satu pembawa acara memandu peserta meneriakkan takbir, ALLAHU AKBAR. Wow gedung itu bergema dengan hebatnya. Ya baru kali ini saya merasakan ruh para ADK yang serempak meneriakkan kalimat tauhid itu.

Di sela – sela kegiatan kami menyempatkan saling berkenalan satu sama lain. Di sinilah terasa dampak status ADK itu. Setelah berkenalan kita langsung gampang akrab karena kita selalu memahami ADK itu bersaudara walaupun di alqur’an juga sudah dijelaskan bahwa setiap muslim itu bersaudara. Tapi bersama para ADK inilah dapat kurasakan persaudaraan itu. Walaupun dari ras yang berbeda, suku yang berbeda tapi kalau ketemu ADK itu seperti saudara sendiri hehe.
Ini adalah satu pengalaman lagi bahwa ADK itu keren dan bersaudara. Ini terjadi di negara jiran Malaysia. Alhamdulillah saya dan saudara tercinta akh rusef sudah sempat berkunjung ke tetangga eh malaysia maksudnya.

Selaku orang Indonesia kita seringkali mendengar bahwasanya hubungan Indonesia dan malaysia itu agak rumit, ceilah kayak orang pacaran aja haha. Masalah indo – Malay terjadi mungkin sebagian masyarakat indonesia sudah mengetahuinya. Tapi bagi kami berdua masalah itu tidak ada ketika kami sampai di Malaysia dan bertemu dengan penduduk sana.

Tepat minggu kedua Ramadhan 1435 H atau 8 juli 2014 saya dan akh rusef mantan ketua UKK UNP 2012 kebetulan saya sebagai kabid Syiarnya UKK waktu beliau jadi ketua hihi. Waktu itu kami berangkat ke malaysia tanpa tahu siapa yang mahu dikunjungi, rencananya akan mengembara seperti cheng-ho(da’i luar biasa di  ASIA). Tapi difikir – fikir tidak segampang itu juga backpakeran berdua.
Namun Tuhan berkehendak lain he, 3 bulan sebelum berangkat saya membuat rencana kunjungan saya ke malaysia di sebuah web para pelancong dunia. Tiba – tiba ada seorang warga malaysia yang menawarkan diri untuk memandu kami selama di sana. Alhamdulillah lega.

Sebenarnya dia seorang Buddhist, saya pribadi agak takut juga dipandu sama tuh orang. Tapi kami sudah komunikasikan banyak hal sebelum berangkat jadi terasa cukup akrab dan tidak canggung lagi pas ketemu. Namun beberapa minggu sebelum berangkat Tuhan berkehendak lain lagi. Teman yang akan memandu kami itu resign dari peusahaannya dan pindah kerja ke Thailand.
Terpaksa kami panik lagi. Tapi teman saya itu akan balik ke malaysia untuk bertemu kami tapi hanya bisa satu hari. Saya berfikir panjang lagi lalu bagaimana dengan hari – hari selanjutnya di sana. Tiba – tiba Allah memberi jalan kemudahan. Seorang abang kami dari alumni dakwah kampus STIE Perbankan menawarkan agar kami menghubungi ikhwah di sana.

Beliau ada kenalan ikhwah di malaysia katanya. Waktu musibah gempa di Sumbar tahun 2009 itu ternyata ikhwah dari malaysia merupakan salah satu relawan yang membantu masyarakat yang terkena musibah, lalu bertemulah mereka dengan bang Rionardo. Dan sepertinya mereka cukup akrab. Ya begitulah ukhuwah sangat gampang terbentuk dikalangan ikhwah manapun.
Akhirnya setelah sampai di Malaysia hari pertama kami menginap di tempat teman pertama tadi. Walaupun dia orang budha, dia cukup baik dalam menghargai orang lain. Dan rela balik ke Malaysia hanya untuk memandu kami walaupun satu hari. Besoknya saya langsung menghubungi ikhwah yang di Malaysia itu.

Ini sangat rumit saat saya mencoba untuk bertemu ikhwah di sana. Saya mencoa menghubungi ikhwah pertama, ternayata dia bilang dia lagi terbaring sakit. Kemudian dia memberi kontak ikhwah lain, ternyata beliau lagi ada job di kantornya, hingga beberapa kontak ikhwah saya dapatkan di sana. Finally, kami di suruh menunggu di sebuah kampus megah yaitu IIUM (International Islamic University Malaysia).

Singkat cerita, kami diantarkan oleh teman budha tadi ke sana. Waduh dalam keadaan puasa begini kami pusing mau bertemu ikhwah di sana. Terbayangkan bagaimana dahaga kami ketika berkeliaran di negara orang. Setiba di universitas itu kami sholat zuhur berjamaah dan ketemulah dengan ikhwahnya. Akhirnya datanglah beberapa ikhwah lainnya yang begitu lembut menyapa dan menyambut kami. Rasanya mereka datang sebagai pelepas dahaga kami di saat berpuasa.
Akhirnya kami di antar ke rumah kontrakan dimana yang tinggal di sana adalah ikhwah. Di antara mereka ada yang masih kuliah, ada yang sudah bekerja. Akhirnya lebih kurang seminggu kami hidupdan menjalani ibadah puasa bersama mereka yang baru kami kenal dan itu rasanya tak tergambar dengan kata – kata. Ya begitulah ukhuwah tidak memandang siapa dan darimana anda. Dan saya merasa sangat berat untuk berpisah denga mereka ketika itu.

Akhirnya perpisahanpun tak bisa dihindari kami harus balik ke Indonesia. Di hari terakhir kami di sana sangat terasa ukhuwahnya. Ketika kami mau balik setelah maghrib. Namun mereka menahan untuk sholat tarawih terakhir malam itu bersama mereka. Setelah sholat mereka akan mengantarkan kami ke stasiun utama. Kami memutuskan untuk sholat tarawih terakhir malam itu di sana.
Sepulang kami sholat tarawih semua ihkwah sudah ramai di rumah, lalu tak di duga kami diantarkan sampai ke bandara. Mungkin bagi yang sudah pernah ke malaysia tahu bagaimana jauhnya jarak antara bandara dengan kota kuala lumpur. Tapi begitulah ukhuwah tak memandang berapa lama anda saling mengenal. Dan sampailah kami di bandara sekitar pertiga malam. Itulah saat dimana mata saya harus berkaca – kaca ketika mereka akan balik dan sayapun memeluk mereka dengan erat sebagai bentuk ikatan serta ucapan terima kasih.

Itulah sekelumit kisah singkat dan pengalaman yang saya dapatkan selama menjadi Aktivis Dakwah Kampus. Saya sangat senang, ingin tersenyum bahagia dan meneteskan air mata haru jika mengingat masa – masa indah bersama orang – orang yang luar biasa. Mereka yang selalu mengingatkan untuk kebaikan.

Flash back lagi, waktu itu saya masih berstatus magang di kepengurusan UKK. Saya di letakkan di bidang humas dan jaringan. Di bidang Humas ini ada kepala bidang yang tak akan saya lupakan. Darinya saya juga belajar banyak hal. Ketika itu bidang humas mengadakan sebuah even kecil di sore hari. Kebetulan sekali banyak para pengurus magang yang tidak bisa ikut serta membantu preparing acaranya. Makanya saya membantu sang kabid semampu saya. Dan kegiatanpun sudah bertubrukan dengan waktu maghrib. Saat acara sudah kelar saya bingung karena sang kabid menghilang.

Akhirnya setelah salat maghrib dia sedang terkapar si sekret dan dia terlihat pucat. Waduh saya merasa bersalah karena memang mulai dari persiapan sampai selesai acara beliau sendiri yang banyak menangani acara. Tapi saat saya tanya keadaannya dia bilang tidak apa-apa. Dan saya berfikir kok bisa sampai segitunya abang ini mengurusi UKK ini. Ah sudahlah mungkin suatu saat saya juga mengerti,hehe.

Begitulah beberapa cerita singkat saya dengan LDK yang pernah saya alami. Mereka mengajarkanku jalan cinta, jalan para pejuang walaupun sebentar tapi sangat berarti. Saya yakin tak akan menemukan masa seperti itu lagi setelah memasuki era kehidupan yang lain. Namun Allah selalu menyediakan masa terindah dalam hidup ini terutama untuk mereka yang selalu berusaha menemukan cahaya hidayah itu.

Buat teman – teman seperjuanganku kalian tidak akan pernah lupa setiap sudut masjid Almadaniy saat kita mengikuti agenda Tatsqif, kalian adalah momen terindah yang mempunyai posisi khusus di memori ini. Buat ikhwah UNP 2010 yang mengikuti LMT kalian pasti ingat bagaimana tangismu pecah dihari terakhir kegiatan itu. Ah entahlah bayangan senyum kalian masih bisa melembutkan hatiku.

Buat teman – teman di Formis FT UNP terimah kasih atas perhatianmu. Terutama senior yang telah melibatkanku dalam perjuangan di Formis. Sebenarnya dari awal saya tidak pernah mengikuti alur menjadi anggota baru di Formis, tapi senior – senior menetapkan aku sebagai salah satu pengurus dan  memaksaku dengan penuh kasih sayang sehingga akupun menemui orang – orang yang lebih keren lagi. Saya tidak pernah tinggal di wisma Formis. Tapi saya sering mencoba menikmati santapan satu talam bersama dan rasanya itu ah sudahlah.

Buat teman – teman seperjuangan di UKK, kalian bagaikan tonggak di sebuah bangunan. Kalian telah menguatkanku dan membuatku semakin tahu makna sebuah persaudaraan. Makna kata pantang menyerah dalam menyelesaikan tugas dakwah. Sekarang mungkin kita punya tugas yang berbeda tapi ku yakin hati kita masih tetap sama, mencintai karena Allah.

Untuk seluruh adik – adik pengemban amanah dakwah pahamilah bahwah disnilah kau akan menemukan makna persaudaraan yang sebenarnya. Makna perjuangan. Makna perubahan. Makna kehidupan. Kalian mungkin estafet yang kesekian dari para pendahulumu. Saat kalian memutuskan untuk bergabung di dakwah kampus itu berarti kalian ingin mendekatkan diri dengan Tuhanmu. Dan saya yakin Allah akan menjaga hati yang selalu teringat denganNya.
 
                           

Terakhir izinkan saya berdoa kepada sang pemilik hati. “Ya Rabb, tetapkanlah hati kami pada jalan kebenaran ini. Kami punya saudara di sini maka jagalah hati mereka, jauhkan mereka dari kesulitan hidup, tutuplah pintu maksiat dari mereka, dan rahmatilah kami serta pertemukanlah kami pada suatu masa yang paling bahagia esok”. Aamiin Allahumma Aamiin.

Salam Cinta
Eka Sikumbang
https://www.facebook.com/eka.ranksikumbang?fref=ts

0 Response to "Para Penebar Cinta ''Eka""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel