Nasehat di Depan Banyak Orang, Terasa Bagai Hinaan Yang Membuat Hatiku Luka



“Mukmin yang satu adalah cermin untuk mukmin lainnya”, bukan untuk takjub dengan bayangan diri, tapi kita bisa dengan mudahnya saling melihat kesalahan satu sama lain. Tak masalah siapa yang lebih banyak berdebu,
karena masing-masing dari kita selalu siap bergantian untuk menyekanya. Tapi, dengan lemah lembut tentunya, karena jika salah satu dari kita retak, maka pada siapa diri akan berkaca?
Ini tentang nasehat dan cinta. Mungkin bisa dibilang seperti ini, seberapa besar cintamu pada saudaramu terukur dari seberapa kuat usahamu untuk menghindarkan saudaramu tersebut dari kelalaian dan perbuatan dosa, minimal dengan memberikan nasehat kepadanya saat dia mulai menjauh dari Allah. Sesungguhnya ada cinta pada setiap teguran seorang mukmin pada saudaranya.
Khudzaifah bin Al Yaman ra dalam suatu kesempatan, mendatangi sahabatnya, Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Tidak seperti biasanya, Khudzaifah yang juga disebut shahibus sirri (penyimpan rahasia) Rasulullah saw itu mendapati Umar dengan raut muka yang muram, penuh kesedihan. Ia bertanya, “Apa yang sedang engkau pikirkan wahai Amirul Mukminin?”
Jawaban Umar sama sekali tidak terduga. Kesedihan dan kegalauan hatinya, bukan karena banyak masalah rakyat yang sudah pasti membuatnya letih. Kali ini, Umar justru tengah khawatir memikirkan kondisi dirinya sendiri.
“Aku sedang takut bila aku melakukan kemungkaran, lalu tidak ada orang yang melarangku melakukannya karena segan dan rasa hormatnya kepadaku,” ujar Umar pelan. Sahabat Khudzaifah segera menjawab, “Demi Allah, jika aku melihatmu keluar dari kebenaran, aku pasti akan mencegahmu.” Seketika itu, wajah Umar bin Khattab berubah senang. “Alhamdulillah yang menjadikan untukku, sahabat-sahabat yang siap meluruskanku jika aku menyimpang,” katanya.
Seorang amirul mukminin pun masih mengkhawatirkan jika tidak ada yang akan menasehati dan meluruskannya. Bahkan ia berharap siapapun dapat menegurnya dengan leluasa tanpa perlu rasa segan kepadanya.
Perkara menasehati sebetulnya mudah. Hanya saja terkadang hati kita yang sempit seringkali membuatnya menjadi sesak. Ditambah dengan jiwa yang terlalu besar dan sombong untuk menerima teguran. Usia pun menghalangi diri untuk menerima perbaikan dari yang lebih muda. Dan yang lebih piciknya, kita melihat pantas atau tidaknya seseorang memberikan nasehat berdasarkan seberapa tinggi tingkat ilmu yang ia miliki, dan melihatnya hanya dari kacamata kita.Padahal seorang amirul mukminin yang derajatnya lebih banyak ilmunya begitu cemas jika tidak ada yang menegurnya. Sungguh perkara ini sangat ajaib jika kau bisa menyederhanakan dalam menyikapinya.
Nasehat adalah urusan hati yang bisa saja kau tak bermaksud melukai tapi malah membuat saudaramu retak. Maka jangan terlalu kuat menyekanya, dengan lembut dan penuh hikmah dalam menyampaikannya. Berhati-hatilah, jangan sampai menghina dan menuduhnya hanya berdasar kepada sekedar persangkaan saja, sebab persangkaan itu adalah seburuk-buruk pembicaraan, dan cukuplah hal ini sebagai kejahatan.
Rasulullah saw. bersabda: “Cukuplah seseorang itu menjadi jahat saat ia menghina saudaranya yang muslim” (Tirmidzi dan Ibnu Majah)
“Nasehati aku di kala kita hanya berdua, jangan meluruskanku di tengah ramai, sebab nasehat di depan banyak manusia, terasa bagai hinaan yang membuat hatiku luka” (Asy-Syafi’i, Diwan)
Nanti suatu hari, selalu ada yang menasehatimu, bisa saja dulu si A yang menasehatimu, sekarang oleh si B, esok oleh si C. Dan tidakkah kau mensyukurinya? Karena Allah Yang Maha Baik selalu membersamaimu dengan pilihan orang terbaikNYA.
“Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr:10)


Cinta
itu bernama nasehat 

Salam
(ummi alifa)


0 Response to "Nasehat di Depan Banyak Orang, Terasa Bagai Hinaan Yang Membuat Hatiku Luka"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel