Doa itu DikabulakanNya, Bukan DiabaikanNya "Arel"

Doa itu dikabulakanNya, bukan diabaikanNya



17 Juli 2014, tanggal pengumuman ujian tulis perguruan tinggi negeri. Dalam hati berharap lulus jurusan teknik sipil di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik negeri ini , ITS Surabaya. Saya memilih ini karena dapat kuliah di tanah jawa dan faktor akan mudahnya dalam mendapatkan pekerjaan karena universitas favorit. Pagi itu, sekitar jam 08.00 WIB, android telah di tangan untuk menbuka website yang dituju untuk melihat hasil ujian tulis. Setelah beberapa kali error, akhirnya website terbuka juga dan apa yang terjadi???? “MAAF, Anda Dinyatakan Tidak Lulus !!!” Hati terasa sesak, dunia jadi sempit. Tak tau mau mengadu kepada siapa, teman , sahabat, orang tua atau guru seakan semua jangan sampai tahu walaupun pada akhirnya juga akan tahu akan ini.  Saya pun berpikir, entah otak ini tak sanggup untuk teknik atau memang bukan rezekinya disana. Tapi, saya terus berusaha untuk dapat kuliah dengan jurusan teknik, khususnya teknik sipil.

Pasca pengumuman ujian tulis, saya mencari jalur lain untuk bisa masuk kuliah sesuai dengan harapan dan cita-cita . Segala cara dicari dan diusahakan. Ujian mandiri, ujian UMB, dan ujian-ujian lainnya di coba. Hasilnya??? Lulus di teknik sipil Unja Jambi dan UNP. Yang pada akhirnya memilih di UNP karena beberapa alasan. Sedikit lega akhirnya bisa kuliah, walau lulus di jurusan yang kurang diminati (UNP jurusan pendidikan teknik sipil  yang ujungnya jadi guru) dan bukan di tanah jawa yang diimpikan. Dalam pikiran saat itu yang penting ngampus dulu :D .
Jadi mahasiswa teknik merupakan sebuah kebanggan bagi kebanyakan orang begitu pun saya. Jurusan favorit dan pilihan banyak orang. Ribuan orang banyak yang ingin masuk jurusan ini. Menjadi mahasiswa sungguh berbeda dengan siswa. Berbeda dalam penyebutan berbeda dalam tugas, amanah dan kewajiban. Sekarang kami menerima kata tambahan maha pada panggilan profesi kami yang awalnya siswa menjadi MAHASISWA.  Salam Mahasiswa !!!



Selama kuliah di UNP saya  berada di lingkungan yang baik. Baik akan rohani dan jasmani. Tinggal di Muslim Camp yang berisi orang-orang luar biasa. Bg Ichsan Nasution asal Mandailing bp 10, bg Alfi Yandri asal Bukittinggi bp 10 bg Haris asal Sawahlunto bp 12 dan teman-teman seperjuangan bp 14 Fadhil asal Riau, Idroki asal Payakumbuh, Dendi asal Agam dan banyak lainnya. Selain tinggal di Muslim Camp saya juga mengikuti beberapa organisasi keislaman seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan jadi anggota muda FORMIS (forum Mahasiswa Islam)  yang diberi nama GMT 14 (Generasi Muslim Teknik 2014).
Dalam berorganisasi saya cukup aktif dalam mengikutinya. Di KAMMI saya di berikan amanah di bidang kaderisasi. Di FORMIS di amanahkan di bidang humas sedangkan di GMT 14 sebagai sekretasris angkatan muda. Cukup membanggakan bagi saya dapat mengikuti banyak kegiatan organisasi dalam padatnya perkuliahan. Ikut dalam penggalangan dana, bantuan, aksi tolak kenaikan bbm, silaturahmi dengan organisasi lainnya dan kegiatan-kegiatan lainnya. Meski saat itu saya masih dikatakan newbie atau orang baru karena masih maba pada saat itu. Dari ini saya banyak  belajar dalam membagi waktu.dan menentukan mana yang prioritas mana yang tidak.

Meski sedikit mulai merasa enjoy dan mulai merasa senang dengan kegiatan dan perkuliahan selama di UNP, tapi tetap ada  yang menjanggal dalam hati yaitu keinginan untuk pindah ke jurusan teknik murni dan keinginan kuliah di tanah jawa. Untuk masalah pindah jurusan sebenanrnya ada cara unuk dapat pindah yaitu  meminta kepada kepala jurusan untuk pindah jurusan tapi hal itu hanya bisa dilakukan semester 3 atau setahun kemudian. Dan hal ini harus memenuhi beberapa persyaratan agar dapat dikabulkan kajur teknik sipil dan kajur jurusan yang saya inginkan.


Meski bukan di prodi yang saya impikan, semangat untuk kuliah tetap membara agar dapat memenuhi persyaratan untuk pindah jurusan dan juga dapat membanggakan orang tua. Segala yang dibutuhkan mulai dipersiapkan agar dapat pindah jurusan atau  persiapan tes ujian setahun setelahnya. Nilai yang baik, ikut kegiatan untuk dapat sertifikat baca buku SBMPTN dan lain-lain diusahakan. Semua dilakukan dalam padatnya kuliah dan berorganisasi. Tak ada kata keluh maupun kesah dalam hati. Yang ada bagaimana cara untuk dapat pindah jurusan dan pindah kampus dan kalau bisa dapat merasakan kuliah di tanah jawa seperti yang sudah di impikan.
Setahun berlalu kuliah. IPK cukup memuaskan. Cukup untuk memnuhi syarat dapat beasiswa 3,25. Perjuangan untuk indah jurusan baru saja dimulai. Belajar makin giat untuk ujian  SBMPTN 2015 dan mengikuti tes lainnya. Beberapa syarat untuuk pindah jurusan sudah persiapkan surat permohonan ke rektorat, jurusan, dan prodi. Kemudian transkrip nilai semester 1 dan 2 dan beberapa syarat lainnya.

Satu per satu jalan untuk pindah jurusan dan universitas dilewati. Ujian SBMPTN, tes mandiri  dan  ujian sekolah kedinasan STIS. Tapi ini semua kembali mengalami jalan buntu. Pindah jurusan di UNP tidak bisa karena tidak ada kuota untuk anak yang mau pindah jurusan, ujian SBMPTN kembali gagal, ujian mandiri juga gagal begitu pun juga dengan STIS. Dunia seperti kembali gelap. Saya berpikir mungkin memang disinilah takdir saya untuk belajar dan tempat sebagai pengembangan bakat.
Bebrapa hari kemudian seakan ada setititk cahaya di dalam kegelapan. Adanya dibuka pendaftaran sekolah kedinasan berbasis ketarunaan. Sedikit ragu karena tahu seperti apa sistem taruna yang keras. Tapi karena niat dan tekad yang kuat untuk pindah kepada teknik hal itu diabaikan. Selama pendaftaran juga mengalami hambatan. Syarat yang kurang, atau tempat pendaftaran yang sudah tutup karena sudah waktunya istirahat, ditambah pula dengan waktu pendaftarannya yang sudah semakin mempet. Tapi dengan niat dn tekad yang kuat saya terus berusaha agar dapat pindah ke tempat yang saya inginkan.


 Ujian masuk dilaksanakan. Ujian pertama tes kompetensi akademik, yang terdiri dari fisika, matematika .bahasa inggris yang hasilnya “alhamdulillah saya  lulus”. Lanjut tes psikotes beberapa hari kemudian juga lulus. Dua tes ini seperti dimudahkan oleh Allah. Kemudian tes kesemaptaan dan kesehatan. Tes yang mungkin yang saya ragukan karena fisik yang terlalu kuat dan sedang mengalami sakit yang cukup untuk menggugurkan saya pada tes ini. Mungkin udah rezekinya saya dinyatakan lulus dan  akhirnya tinggal masa-masa penentuan yaitu tes wawancara dan pantukhir. Doa sepanjang malam dipanjatkan agar lulus di sekolah kedinasan ini. Berharap lulus karena bagi saya ini adalah jalan terakhir. Allah mendengar doa saya, takdir dan rezekinya disini saya dinyatakan lulus di sekolah ini. Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD).
Seperti sebuah mimpi. Akhirnya saya dapat pindah jurusan dari jurusan pendidikan ini. Kuliah di jurusan yang teknik sebenarnya meski hanya D3 (lulus di Prodi D3 LLAJ). Tapi itu tak masalah, ini dapat diselesaikan dengan melanjutkan kuliah lagi untuk dapat gelar sarjana. Yang paling buat saya bahagia adalah akhirnya saya dapat merasakan tanah jawa sebagai mahasiswa. Eh bukan mahasiswa tapi taruna.

Dari pengalaman ini dapat saya ambil pelajaran. Allah akan mengabulkan setiap doa dan usaha hambanya yang berusaha untuk mendapatkannya secara bersungguh-sungguh. Setiap doa yang kita panjatkan akan di kabulkan oleh Allah. Jika tepat maka Allah akan langsung mengabulkannya, kalau tidak Allah akan menundanya dan menunngu waktu yang tepat atau Allah akan menggantinya kepada yang lebih baik. Disini saya merasa mendapatkan ketiganya. Pertama allah mengabulkan doa saya secara langsung dengan lulus pada tes yang mana ini adalah jalan terakhir saya untuk pindah, kemudian  menundanya selama 1 tahun saat saya berada di UNP  dan mengggantinya dengan yang lebih baik daripada universitas negeri yang saya impikan dahulu.

Setiap rencana Allah itu pasti lebih baik daripada rencana yang kita buat dan kita susun

Contact :
Arel Nandito
https://twitter.com/NanditoArel

0 Response to "Doa itu DikabulakanNya, Bukan DiabaikanNya "Arel""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel