Cinta Secangkir Green Tea ''Ananta Azzam''

Cinta Secangkir Green Tea Ananta Azzam

Ditemani secangkir Green Tea yang terletak di sudut meja. Hari ini saya mulai mengingat kembali kenangan indah beberapa tahun silam. Menjadi seorang mahasiswa dengan idealisme dan prinsip tangguh yang mampu menunjukkan siapa diri saya. Sebuah ungkapan menarik bagi saya, “Muslim Muda Berani Beda.”



***
Pada tahun 2010, proses awal saya mulai mengenal dan bersentuhan dengan dunia kampus. Disambut dengan segala macam cara dan retorika dari senior-senior kampus yang ada kala itu. Sebagai mahasiswa baru yang masih lugu dan polos, tentu saya hanya menuruti apa yang dibantukan kepada saya oleh senior-senior tersebut. Namun, saya sadar ternyata itu jebakan, hingga akhirnya saya terjebak akan hal itu. Menghadirkan sebuah rasa terima kasih dan utang budi. Bagi saya kebaikan yang orang lain lakukan kepada saya adalah satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan begitu saja.
Komunikasi intens selalu dibangun oleh senior yang membantu saya saat pendaftaran ulang lalu. Perasaan utang budi dan rasa terima kasih menghadirkan sebuah komunikasi yang baik dan juga membuat saya menyambut baik akan hal itu. Prinsip saya, sebuah niat baik seseorang maka wajib disambut secara baik pula bahkan harus lebih baik. Untuk silaturahim sesama muslim beriman, Allah Swt sudah senantiasa memerintahkan kepada kita hamba-Nya.

Sebagaimana Firman Allah dalam (Q.S An Nisaa’ 4: 1) “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim.”

Selain itu, Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam juga bersabda, “Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (diperpanjang umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.”  Jadi, menyambung tali silaturahim dan menyambut baik senior yang berusaha SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) kepada saya itu tidak ada ruginya. Bahkan pasti akan bernilai pahala jika kita melakukannya dengan hati ikhlas.

Saya selalu dihubungi, di sms, bahkan ditemui dikampus untuk diajak mengikuti sebuah acara yang dulunya saya tidak pernah tahu itu acara apa. Saya merasa aneh dengan para perempuannya yang berjilbab lebar, tidak mau bertatapan mata, apalagi bersalaman. Jangan mimpi deh. Hehe Aneh sekali menurut saya.!! Perasaan balas budi akhirnya membawa saya untuk mau ikut sebuah acara di FSDI FIS UNP dengan nama acaranya PELANGI (Pelatihan Intensif Generasi Rabbani). Disini awal saya berkenalan apa itu FSDI.

Seiring berjalan waktu, saya daftar di FSDI meski motivasi pertama karena segan dengan senior jika tidak ikut mendaftar. Setelah menjadi Laskar Muda FSDI, saya di magangkan di bidang Humas dan Jaringan. Saya banyak belajar tentang ilmu Humas dan Membangun jaringan dalam komunikasi organisasi disini. Bidang Humas dan Jaringan adalah pintu gerbang untuk komunikasi organisasi ke dalam (intern) dan/atau ke luar FSDI. Segala isu ataupun opini yang berkembang tentang FSDI dan dakwah di Fakultas merah ini harus mampu ditanggapi dan diklarifikasi secara baik dan positif oleh Bidang Humas dan Jaringan ini. Kader Bidang Humas dan Jaringan harus mampu berhubungan secara baik dan positif dengan segala kalangan dan semua civitas akademika, baik dalam maupun luar kampus. Kader Bidang Humas dan Jaringan harus mampu membangun kerja sama dengan pihak-pihak yang akan mendukung kelangsungan dakwah di kampus kita. Tidak hanya sekedar membangun relasi atau kerjasama tetapi juga menjaga hubungan baik dengan relasi tersebut. Apalagi lembaga

Dakwah tingkat Fakultas sangat minim (bisa dibilang tidak ada) anggaran dana dari pihak kampus. Meskipun begitu, lembaga kita sudah legal formal dan diakui oleh pihak kampus. Sedikit disayangkan saja bahwa aktivitas mahasiswa dalam bidang keislaman di Fakultas masih belum ada anggaran dana yang jelas dan dianggarkan. Meski begitu, tidak menghambat semangat kader semuanya untuk senantiasa aktif berjuang di dakwah kampus dan memberikan kontribusi positif untuk orang banyak. Allah berfirman, “Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S Muhammad 47: 7) Yakinlah, Allah Swt akan menolong kita semua mencari dana untuk mendukung kemajuan dakwah di kampus. Dana itu akan dengan mudah didapatkan dengan syarat para kader dakwahnya selalu semangat dan saling bekerjasama dengan baik.

Pemahaman yang baik tentang urgensi berdakwah di kampus dengan niat ikhlas dan semangat yang tinggi, tidak akan kita dapatkan secara mudah. Apalagi orang seperti saya yang memiliki latar belakang bukan seorang kader islam yang militan. baru mengenal LDK hanya ketika dikampus ini saja. Perilaku saya yang aneh dan masih labil di SMA tentu akan ikut mempengaruhi kharakter saya dalam bergaul ataupun berprilaku sehari-hari. Awal mula bertemu dengan para Jenggoters dan Jilbabers yang menurut saya sangat aneh dan kaku, membuat saya sedikit banyaknya selalu pasang badan untuk waspada jika ada hal-hal aneh yang diajarkan kepada saya. Saya pastikan menghilang dari peredaran mereka alias cabut coyy.. Namun, semua kecurigaan saya tidak terbukti. Prasangka di awal juga salah besar. Mereka itu bukan aneh dan kaku, hanya mencoba menjalankan prinsip mereka dan itu tidak salah. Ada ungkapan mengatakan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Saya selalu coba ikuti dan terima dengan baik, selagi tidak ada yang aneh dan menyimpang sehingga dengan izin Allah Swt serta hidayah-Nya, saya mau bergabung seutuhnya di barisan dakwah ini dengan niat ikhlas karena Allah, bukan karena senior lagi dan lain hal sebagainya. Alhamdulillah.!

***
Amanah saya sejak awal bergabung hingga akhir menunaikan amanah di FSDI selalu diposisikan dalam Bidang Humas dan Jaringan (sekarang Bidang Humas dan Media). Dengan hal ini membuat saya selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Harus bisa membangun emosi secara baik dengan orang lain dalam kondisi apapun diri saya. Harus mampu dan bisa menemui orang-orang penting di Fakultas maupun luar Fakultas. Mungkin tidak semua orang mendapatkan kesempatan baik ini sehingga dapat belajar membangun kepercayaan dirinya. Saya juga mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi secara intens dengan Dekan beserta jajarannya di Fakultas.

Amanah di FSDI mampu mendewasakan diri saya. Agar mampu bersikap lebih sabar, berpikiran positif, serta menjaga komunikasi yang baik dengan sesama kader dakwah maupun kawan-kawan yang berbeda prinsip dan pemikiran. Tetaplah berpegang teguh pada prinsip, “satu musuh terasa banyak, seribu kawan terasa sedikit.” Berbeda pendapat atau pemikiran itu hal biasa, tetapi jangan jadikan itu sebagai alasan untuk kita saling menyimpan dendam dan kebencian terhadap orang yang berbeda pendapat itu.

Selama menjalankan aktivitas empat tahun dikampus. Selain aktif di FSDI FIS UNP. Saya juga tidak cukup berpuas diri untuk belajar dalam satu organisasi saja. Saya juga mulai aktif di organisasi lain, seperti UK-Kesenian UNP hingga akhirnya saya memutuskan untuk non-aktif dengan berbagai pertimbangan. Saya juga aktif d HMJ Sejarah, UK-Kerohanian UNP, BPM FIS UNP, Teater OASE UNP, ACIKITA Foundation, ACIKITA Padang, FKSI MPS dan FSLDK ISIP yang membuat saya kenal dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai pelosok negeri ini. Membuat saya menambah teman dan wawasan yang sangat bermanfaat.

Semua amanah yang saya dapatkan tentu sudah rencana dari Allah. Meski tak mudah menjalani dan sudah tentu banyak rintangan yang selalu dihadapi. Namun, percayalah dengan kuasa dan kekuatan Allah Swt. Setiap peristiwa atau kejadian yang kita alami pasti akan ada hikmahnya setelah itu. Selalu berprasangka baik kepada Allah dan mohon kekuatan kepada-Nya. Tergantung bagaimana kita mampu memaknai sesuatu itu secara positif. Ingat, pemikiran positif dan perkataan positif akan melahirkan tindakan yang positif pula.

***
“Persaudaraan adalah mu’jizat. Wadah yang saling berikatan. Dengannya lah Allah persatukan hati-hati yang berserakan. Saling bersaudara, saling merendah lagi memahami. Saling mencintai dan saling berlembut hati.” (Sayyid Qutb)

FSDI FIS UNP adalah keluarga baru ku dikampus. Rumah Cintaku. Rumah orang-orang yang selalu berusaha saling mencintai karena Allah. Menjalin persaudaraan karena Allah. Berkasih dalam satu jiwa dan nafas, yaitu nafas dakwah fisabilillah. Alhamdulillah, Puji Syukur kepada Allah yang telah mempertemukan saya dengan barisan dakwah ini. Tidak ada nikmat yang paling indah, melainkan nikmat iman dan islam dari Allah Swt.

Namun, saudaraku semua. Ibarat pepatah, “Tidak ada gading yang tidak retak.” Para kader dakwah bukanlah barisan malaikat yang luput dari khilaf dan salah. Hanya orang-orang yang senantiasa mencoba memperbaiki diri dari khilaf dan salah. Barisan dakwah juga tidak selalu seindah yang kita bayangkan. Itu benar. Akan banyak terjadi kekecewaan dan kesedihan yang akan kita alami di jalan dakwah ini. Jalan yang sedikit pengikutnya, jalan yang panjang ujungnya, berliku, penuh onak dan duri, maupun jalan yang penuh dengan masalah. Masalahnya adalah kita harus rela meninggalkan sifat-sifat buruk atau prilaku buruk yang mungkin selama ini kita selalu enjoy di zona itu. Untuk menuju ke arah yang leih baik itu tidak mudah. Godaan syetan sangatlah kuat. Namun, percayalah dengan kekuatan dan pertolongan Allah. Disanalah ujian kita sebagai hamba Allah dan umat Baginda Rasulullah Saw. Belum apa-apanya perjuangan kita dibandingkan dengan dakwahnya Para Nabi dan Rasul, para sahabat, para mujahid/mujahidah terdahulu, dan yang lainnya.

Semua aktivitas di jalan ini dakwah akan terasa mudah dan indah jika kita mampu memaknai setiap peristiwa secara positif, selalu berbaik sangka, dan niat hanya karena Allah semata. Berdakwah bukan karena jabatan, ingin terkenal, ikut-ikutan teman, karena senior, karena junior, karena wanita, karena pria, karena inilah atau karena itulah. Jika kita tidak mendapatkan sesuai dengan yang kita niatkan maka jangan sesali pada akhirnya kita menjadi orang-orang yang tergabung dalam barisan yang berguguran di jalan dakwah. Nauzulillah.!

Alhamdullilah... dengan izin Allah saya bisa bertahan dan selalu mencoba untuk istiqomah di Jalan dakwah ini, yang dulunya semua dimulai dari Rumah Cinta FSDI. Saya tersesat di jalan yang benar. Meskipun saya bukanlah salah satu kader yang militan atau kader penting seperti yang lainnya. Saya mengakui sering terjadi banyak kekecewaan dan kesedihan yang hadir dalam setiap aktivitas saya di LDF ataupun LDK, tetapi saya selalu mencoba kembali meluruskan niat. Niat berdakwah hanya karena Allah. Hanya itu yang saya cari, bukan yang lain. Saya juga akui masih banyak sikap dan perilaku saya yang salah, tetapi saya hanya manusia biasa yang terus mencoba memperbaiki diri hingga hari ini. Tidak usah kita menjadi pribadi yang paling baik dulu setelah itu baru berdakwah. Namun, sampaikanlah kebaikan itu sambil kita terus memperbaiki diri.

Mari kita renungi sejenak syair di bawah ini :
Sekeping hati dibawa berlari  Jauh melalui jalanan sepi  Jalan kebenaran indah terbentang  Di depan matamu para pejuang   Tapi jalan kebenaran  Tak akan selamanya sunyi  Ada ujian yang datang melanda  Ada perangkap menunggu mangsa   Akan kuatkah kaki yang melangkah  Bila disapa duri yang menanti  Akan kaburkah mata yang meratap  Pada debu yang pastikan hinggap   Mengharap senang dalam berjuang  Bagai merindu rembulan di tengah siang  Jalannya tak seindah sentuhan mata  Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba

***
FSDI mengalihkan duniaku.! Banyak kenangan yang tidak terlupakan selama saya menjadi bagian Keluarga Besar FSDI. Saya banyak belajar ilmu tentang manajemen organisasi, manajemen hati, maupun ilmu agama. Banyak suka duka dan canda tawa yang lahir dari persaudaraan kami. Sesuatu yang awalnya dianggap aneh, ternyata memiliki makna dan hakekat yang mendalam, ternyata itu baik. Tidak semua orang yang mampu menerima dan memahami akan hal-hal itu. Alhamdulillah, saya bersyukur mendapat rahmat dan hidayah dari Allah hingga bisa memahami akan hal itu.
Contoh nyata pertama, saya sangat kaget dan merasa aneh ketika rapat perdana di FSDI dengan menggunakan hijab (dibatasi dengan kain/ pembatas Mushalla). Saya seumur hidup belum pernah mengalami itu. Sueerr dehh.!! Setelah saya telusuri dan bertanya ternyata tujuannya sangat baik agar lebih menjaga pandangan dan hati. Namun, tidak sedikitpun menghilangkan esensi rapat, bahkan jauh lebih efektif. Bukan tidak mampu menguatkan hati dengan keimanan, tetapi bisikan syetan itu bisa kapan saja dan dimana saja. Mencegah itu jauh lebih baik.

Contoh nyata kedua, saya melihat para aktivis di FSDI selalu menjaga diri agar tidak bersentuhan/ bersalaman dengan lawan jenis. Kalau saya, jangan kan sekedar salaman. Gandengan saja juga sering. Lalu, saya mencoba bertanya dan teliti dengan baik. Setelah saya teliti ternyata itu bukan ajaran aneh, dan itu adalah perintah syariah. Dari Ma’qil bin Yasar ra. Berkata :

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu masih jauh lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal (bukan mahrom) baginya.” (HR Tabrani dalam Mu’jam Kabir 20/174/386).

 Menjaga diri dari yang non mahrom, salah satunya tidak bersentuhan/bersalaman dengan non mahram. Dan itu sudah jelas dalilnya didalam ajaran kita. Namun, untuk yang satu ini saya baru bisa melaksanakannya secara utuh dan komitmen saat awal semester 3 di kampus. Tidak mudah memang, bahkan bisa dikatakan sangat berat ujiannya. Sangat banyak pro-kontra yang terjadi dalam hubungan sosial saya dengan orang lain. Saya dikatakan aneh, sesat, sudah berubah, sok suci dan lain sebagainya. Meskipun masih ada yang menguatkan dan mendukung apa yang saya lakukan ini. Perbedaan pendapat dan perdebatan kadang sulit dihindarkan dengan teman-teman yang tidak suka cara saya tersebut. Hingga dipertanyakan manfaat hingga dalil-dalilnya menurut agama. Sebagai muslim yang baik senantiasalah selalu sabar dan memberikan jawaban yang baik pula. Perbedaan pendapat di awal itu wajar, mungkin ada yang merasa aneh atau belum terima dengan perubahan sikap kita. Akan tetapi, percayalah seiring berjalannya waktu mereka akan paham sendiri dengan prinsip hidup kita tanpa harus mengorbankan hubungan baik sesama teman. Bahkan saat ini malah teman-teman tidak perlu diingatkan lagi bahwa kita tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis yang non mahram. Mereka sudah ingat dan paham dengan sendirinya.

Alhamdulillah.!
Contoh nyata ketika, di FSDI saya harus mengkuti “Mentoring”. Bahasa kerennya, Dugem alias duduk gembira. Kumpul-kumpul untuk bertanya kabar dan cerita-cerita tentang kita dan islam. Alhamdulillah, kegiatan yang satu ini sangat bermanfaat bagi saya. Saya yang minim pengetahuan islam mendapat banyak ilmu dan wawasan islam. Hidup ini tidak sekedar mencari ilmu dunia saja, apalagi untuk sekedar mencari uang atau kekuasaan. Tujuan hidup hanya mengharap ridho Allah. Untuk mengapai hal itu perlu keseimbangan wawasan ilmu dan agama yang baik dan benar. Albert Einstein berkata “Agama tanpa ilmu adalah buta, Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.” Dan saya juga selalu ingat kalimat yang selalu diulang oleh para senior saya di FSDI yaitu“Mentoring bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya bisa berawal dari Mentoring.” Menuntut ilmu memang bisa dimana saja, tetapi yang secara berkelanjutan itu yang perlu kita jaga. Ibarat HandPhone, mesti harus di charger secara berkala agar dayanya tetap baik. Iman manusia juga harus begitu. Keimanan manusia yang selalu naik turun, maka dibutuhkan charger ilmu agama dan penguatan dari para saudara seiman minimal seminggu sekali. Agar daya iman kita selalu baik, apalagi punya saudara-saudara yang saling menasehati dan mencintai karena Allah. Masih banyak contoh-contoh nyata lainnya yang Insha Allah bernilai baik dan bermanfaat bagi kehidupan saya hari ini dan kedepannya. Amin Ya Allah.

***
Wisma At-Takhwin Center. Ini keluarga selanjutnya dalam kehidupanku. Sulit diungkapkan dengan kata untuk menunjukkan rasa cintaku terhadap keluarga ini.
Mindset awal yang tidak baik tentang wisma membuat saya wanti-wanti agar jangan sampai tinggal di wisma. Rumah yang penuh aturan dan berbagai macam kegiatannya. Namun, Allah punya rencana lain. Saya diberikan amanah menjadi Koordinator Bidang di FSDI. Dan itu menuntut saya kala itu untuk harus tinggal di wisma agar komunikasi organisasi bisa berjalan dengan baik. Melalui proses panjang dan lobby seorang sahabat yang membuat saya akhirnya pindah ke wisma. Sebenarnya, saya sedikit banyak sudah tahu kondisi wisma karena sebelum tinggal di wisma saya sudah sering bertamu kesana. Namun, perbedaan status antara tamu dengan penghuni tentu jelas berbeda. Saya menemukan hal-hal baru dan membutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi. Dan saya mencoba untuk memperbaiki niat. Sebagaimana sabda Rasulullah. “Semua amal perbuatan tergantng niatnya, dan (balasan) bagi masing-masing orang (tergantung pada) apa yang diniatkannya.” (Hadist Shahih. Muttafaq Alaih, Diriwayatkan oleh Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907).

Saya memulai niat bahwa tinggal di wisma hanya karena Allah dan untuk memperlancar urusan amanah saya dalam dakwah. Di samping hikmah-hikmah lain yang juga sangat besar jika kita tinggal di wisma. Tinggal di wisma tidak hanya sekedar tinggal saja, atau disamakan dengan kos/kontrakan pada umumnya. Wisma tidak begitu dan tujuan dibentuknya wisma juga bukan hanya untuk itu. Wisma bertujuan untuk sarana memperbaiki diri dan pembinaan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Oleh sebab itu, akan ditemui banyak aturan diwisma yang Insha Allah semuanya membawa ke arah kebaikan. Semua diatur dari hal-hal terbesar hingga terkecil sekalipun. Jika niat kita ikhlas dan baik untuk menjalani semuanya, maka dengan izin Allah kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik sebelumnya.

Sebagaimana Firman Allah
  “..Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada dirinya..” (Q.S Ar-Ra’d : 11)

Saya berusaha menjalani aturan dengan sebaik-baiknya meskipun masih ada aturan-aturan yang dilanggar atau kurang dilaksanakan. Siap-siap saja mendapat teguran atau surat cinta dari PenanggungJawab wisma. Hehee..

Satu hal mesti yang dipahami oleh kita bersama, terutama bagi kita yang dulu, sekarang atau yang akan tinggal di wisma. Memang sangat banyak keuntungan dan kebaikan yang kita peroleh dari tinggal di wisma. Kita punya banyak saudara, saling bantu, saling menguatkan, serta ada yang mengingatkan soal ibadah, dan sebagainya. Namun, yang nama nya hidup bersama dengan berbagai macam tipologi manusia itu tidaklah mudah. Tinggal di keluarga sendiri saja dan sudah bersama sejak lahir masih dipertemukan dengan konflik-konflik kecil, kekecewaan, kesalahpahaman, dan hal lainnya. Apalagi kita hanya dipersatukan untuk tinggal bersama saat kuliah saja. Tentu butuh proses untuk mencapai kesamaan pandangan dan presepsi dalam bertindak dan berpikir dalam kehidupan sehari-hari. Butuh kesabaran dan keihlasan hati dalam setiap peristiwa yang ada di wisma. Insha Allah akan banyak hikmah yang dirasakan jika kita mampu memaknainya secara positif.
Tidak akan ditemukan di kos atau kontrakan biasa ketika makan pakai talam, saudara yang mengingatkan ibadah harian, tilawah bersama, tempat curhat hingga tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Demi Allah hari ini saya merindukan itu semua.

Saya mencintai kalian karena Allah. Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim)

***
Kali ini spesial untuk para Genid 2010 alias Generasi Idaman ADK UNP 2010. Terima kasih telah menjadi sahabat bahkan saudara terbaik untuk saya selama ini. Banyak cerita maupun kisah yang mungkin tidak akan cukup jika dituliskan satu persatu disini. Syukur Alhamdulillah kepada Allah, bisa dipertemukan dengan kalian semua. Ana mencintai kalian semua karena Allah. Tidak jauh berbeda ungkapan rasa cinta itu dengan sebuah syair nasyid dari Ali Sastra dibawah ini :
hari-hari saat aku bersamamu sahabat
telah lama waktu yang kita lewati bersama
kusadari masa itu masa-masa terindahku
dalam sukaku dalam dukaku engkau selalu ada
sahabatku tercinta terimalah laguku
hadirmu selalu memberi bahagia
semoga abadi persahabatan kita
ingatkah saat kuterpuruk di sini
kaulah yang selalu di sisiku
terimakasih telah menjadi bagian yang berarti  tuk persahabatan kita
Semoga kalian semua selalu dalam lindungan dan ridho Allah Swt.

Jadilah orang sukses dan gapailah cita-cita terbesar antum semua.
Jangan takut bermimpi selagi saat ini bermimpi tidak bayar. Hehe... Ana ingat sebuah ungapan luar biasa dari salah satu The Founding Father bangsa ini, yaitu
“Gantungkan cita-cita mu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” – Soekarno
***


Sengaja tidak ada pembicaraan detail tentang pengalaman saya di ranah dakwah siyasi. Jika membutuhkan diskusi lebih lanjut, Insha Allah dengan senang hati bisa hubungi saya. Untuk bahasan yang satu ini, saya lebih nyaman berdiskusi secara langung atau via telpon daripada harus dituliskan. Heheheee...
Pukul 01.27 WIB, saya cukupkan tulisan ini. Meski sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi sedikit suplemen untuk kita semua, terutama diri saya pribadi. Semoga istiqomah di jalan dakwah ini. Meskipun harus berada diatas perahu yang bocor dan memiliki layar yang robek. Cobalah untuk bertahan diatasnya. Bersama-samalah untuk menutup kebocoran itu. Bersama-samalah menjahit layar yang robek itu. Jangan coba sesekali lari dan akhirnya terjun kelautan. Semoga kita bisa berlayar hingga ke tujuan, Surga Allah. Ingatlah, roda dakwah terus berputar. Jangan sesekali mencoba untuk keluar dari pusaran roda yang makin hari makin kuat putarannya. Jika sudah keluar pasti akan sulit untuk masuk lagi ke pusaran roda. Keep Hamasah.! (

“Jadikan Rabithah pengikatnya, Jadikan doa ekspresi rindu. Semoga kita bersua di Surga.” Amin Ya Allah

salam
''Ananta Azzam''
https://www.facebook.com/ckhyphy?fref=ts
email:  pikisetripernantah@gmail.com

0 Response to "Cinta Secangkir Green Tea ''Ananta Azzam'' "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel