Perjuangan Orangtua Untuk Anaknya



Pernah aku berpikir, bahwa semua perjuangan orang tua wajib diketahui setiap anak. Misalnya, semua anak harus tau bagaimana susahnya ibu mengandung, bagaimana sulitnya perjuangan ibu melahirkan. Seperti apa seorang ayah menahan lelah dan berjuang memenuhi nafkah yang halal nan berkah.

Namun, siang ini aku tersadar semenjak malam berdiskusi dengan ummi alifa tentang ladang amal yang ditilik dari berbagai sisinya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk takkan pernah menceritakan bagaimana kami sebagai orang tua inginkan yang terbaik berikut ikhtiar yang kami perjuangkan. Sebab, tak ada anak yang meminta untuk dilahirkan.

Tak ada seorang anak pun yang bisa memilih lewat siapa ia akan dihadirkan di dunia. Misalnya, saat nanti kita akhirnya berucap pada anak, “Nak, ummi mu mengandungmu susah payah, melahirkanmu dengan sepenuh jiwa, perjuangan antara hidup dan mati”, bukankah saat itu juga kita gagal mendidik anak kita? Kita gagal, sehingga kita harus mengingatkan pada mereka nilai perjuangan kita.


Ya... membahas ladang amal bersama istri semalam daru berbagai sisi kehidupan dan profesi, salah satunya menuai ibroh yang tak terduga, meski pembahasannya mengakar dan luas hingga solusi, tanpa sadar bonus ibroh dari sisi ilmu sebagai orang tua, bahwasanya seorang anak adalah titipan, dan sudah kodratnya setiap perempuan melalui tahapan mengandung dan melahirkan. Juga seorang ayah menjadi imam tauladan dan mencari nafkah halal nan berkah.

Nah, jika momen terspesial ini hanya berhenti pada sebuah proses yang menuntut penghargaan, darimana kita sebagai orang tua belajar ikhlas dan bersyukur?

Kami ingin menjadi orang tua yang mampu membesarkan dan mendidik anak-anak kami untuk menjadi manusia berkualitas yang tak perlu susah payah kami ingatkan betapa perjuangan kami untuknya begitu amat besar.

Kami tak ingin menjadi orang tua yang menuntut balas jasa. Seorang anak yang dididik dengan baik takkan butuh peringatan dari orang tua untuk menjadi berbakti dan penuh kasih. Mungkin sesederhana menabung dan menyiapkan dana pensiun sedari dini agar kelak di hari tua tak menjadi beban anak, adalah salah satu hal yang sedang kami pikirkan saat ini.

Kami ingin menjadi orang tua yang mencintai anak-anak kami, tanpa membebaninya. Kami ingin melindungi anak-anak kami, menjadi penasehat yang tak membuat panas telinga, menjadi busur yang baik agar kelak ia sebagai anak panah dapat melesak dengan baik menuju masa depannya.

Sebab anakku, bukan anakku.
Dia titipanNya, yang kelak harus kami pertanggungjawabkan tanpa cacat.

Nak, hidupilah hidupmu. InsyaAllah, dengan do'a ummi dan abuyamu, arungilah samuderamu. Kini, kelak, dan nanti, do'a kami untukmu dan berharap dapat menjadi penolongmu.

Dan do'amu dalam khusyukmu untuk kami, insyaAllah pun menjadi penyelamat kami. Nak, kami mencintaimu karena Allah, bahkan jauh sebelum melihatmu.

Untukmu ananda,
Abuya dan ummi

0 Response to "Perjuangan Orangtua Untuk Anaknya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel